Tanggal Terakhir di bulan ini PostgreSql


query untuk mengambil tanggal terakhir di bulan ini
SELECT (date_trunc('MONTH', now()) + INTERVAL '1 MONTH - 1 day')::date as last_day_current_month;

query untuk mengambil tanggal terakhir di bulan tertentu:
contoh:
SELECT (date_trunc('MONTH', '2017-02-01 10:00:46.768+7'::timestamp) + INTERVAL '1 MONTH - 1 day')::date as last_day_current_month;
//output '2017-02-28'


query to get last day of current/certainly

month

sumber : ...


Tue, 21 Mar 2017, 7:56 pm


Gus Mus - Syair Kedamaian

KEDAMAIAN-------------------Terjemahan Kasidah Penyair Tunisia, Anis Chouchaneoleh : KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus)------------------------------------------------------------------salam kedamaian bagi kaliansalam kedamaian bagi kamisalam kedamaian kepada kaliansalam kedamaian kepada kamisalam kedamaian bagi mereka yang menjawab salamsalam kedamaian bahkan bagi mereka yang tak menjawab salamkedamaian atas nama tuhannya kedamaiantuhan segenap hambaAllah tempat semua bersandarkedamaian dimana kita dibesarkankedamaian yang diuli di tanah negeri inikedamaian dimana kita belum juga menetap di dalamnyakedamaian yang tak kunjung menetap di dalam diri kitakedamaian yang kita perhatikan mengemasi kopornyauntuk pelan-pelan meninggalkan tanahair kitadan tempatnya digantikan oleh ketundukan dan kepasrahanberislam tanpa islam di dalamnyaseolah-olah islamnya leluhur kita tak lagi ada artinyatahukah kalian mengapa kedamaian meninggalkan kita?tahukah kalian mengapa kegelapan menyelimuti kita?sederhana saja; karena kita masyarakat yang selalu takutkita adalah masyarakat yang selalu takut pada perbedaanucapan-ucapanku tak akan menyenangkan sebagian dari kalianatau sebagian besar dari kalianatau semua kalian. aku tahu.tapi aku tetap akan mengatakannyakarena aku menolak menjadi bagian dari domba-dombakita adalah masyarakat yang menolak mengakuisebagai masyarakat yang masih hidup terbelakangkita adalah masyarakat yang suka berteriak tanpa maludan mengaku sebagai pembawa pemikiran yang berbedakita adalah masyarakat yang suka membualkan kekosongandan mengaku sebagai masyarakat berbudayaHuh, memuakkan sekali!penerimaan terhadap perbedaan bagi kitahanyalah kulit belakaperbedaan warna saja mengusik kitaperbedaan corak mengusik kitaperbedaan pemikiran mengusik kitaperbedaan agama mengusik kitabahkan perbedaan jenis kelamin pun mengusik kitakarena itu kita selalu berusaha melibas perbedaan yang ada pada kitakita pun berubah menjadi racun dan malapetaka bagi sebagian kitakita adalah masyarakat yang lebih dungu dari kedunguanya, kita masyarakat yang lebih dungu dari kedunguan itu sendirikita bertengkar soal-soal sepele, remeh-temeh, dan takhayuldan selamanya menolak menyelam di kedalaman berpikiraku tidak mengecualikan seorang puntidak kalangan sipil, tidak kalangan politisi, tidak merekayang menyerah pada ketololan diamtidak mereka yang membebek barat bagai orang butatidak mereka yang ingin mengembalikan kejayaankekhilafahan, perbudakan, dan potong kaki silangmarilah kita sekarang mencoba menyelam dalam diri kitadalam kedalaman diri kitamarilah kita mencoba memeluk jiwa-jiwa kitamarilah kita mencoba memeluk dalam jiwa-jiwa kitaperbedaan-perbedaan kita.nah, inilah aku di depan kaliandengan warna kulitkudengan rambutkudengan syairkudengan gayakudengan pikiran-pikirankuaku tidak takut kepada kalianaku tidak takut perbedaan kalian mengenai dirikukarena aku bagian dari kaliandan kalian bagian darikumarilah kita mencipta senimarilah kita menyelam ke dalam imajinasiuntuk melabuhkan kebudayaan tanpa kebebalanagar kemajuan di wilayah kitamerupakan kekhilafahan tertinggimarilah kita cairkan perbedaan budayaetnis, kelompok-kelompok, pemikiran-pemikiranwarna-warna dan agama-agamadan kita tidak melihat kecualim a n u s i a .
sumber : fb Gus Mus


Tue, 6 Oct 2015, 3:37 pm


'Transfer' Pahala Bacaan Al-fatihah (Al-qur'an) untuk yang sudah meninggal dunia

Bismillahirrohmanirrohim.Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Aali Sayyidina Muhammad.
Belakangan ini sedang marak ‘ngeributin’ artis dengan inisial TW yg menjadi pembawa suatu acara di stasiun televisi swasta. Mereka ‘ngeributin’ artis TW gegara si doi mengatakan dalam acara tsb bahwa ‘transfer’ pahala bacaan al-Fatihah (dan bacaan Quran lainnya) tidak bisa sampai kepada org mati, bahkan itu termasuk bid’ah. Sebenarnya bukan hanya artis TW saja, tapi artis dengan inisial ZAM juga menjadi pembawa acara yg sama dan mengatakan hal yg senada dengan artis TW. Tapi yg menjadi fokus bahan perbincangan di medsos hanyalah artis TW.
Untuk itu, marilah qta berusaha untuk ‘menenangkan’ mereka agar tidak menjadi semakin runyam. Perlu diketahui bersama, bahwa masalah ‘transfer’ pahala sudah dibahas oleh para ulama semenjak dahulu kala, dan dari situ diperoleh sesuatu yg sudah ijma’ (kesepakatan ulama) dan ada yg masih khilafiyyah (perbedaan pendapat).
Dan di sini pun kami ingin mengingatkan bahwa yg mendukung perkataan artis TW pun sebaiknya tidak tersulut emosi dan mengeluarkan kata2 merendahkan seperti “menghadiahkan pahala ? emang qta yg punya ?” atau kata2 semacamnya.
Intinya begini. Dalam masalah ‘transfer’ pahala, ada yg sudah disepakati (ijma’) akan sampainya pahala tsb kepada org mati dan ada yg masih khilafiyyah.Yg sudah menjadi ijma’ adalah pahala doa dan shodaqoh, yakni bahwa doa dan pahala shodaqoh bisa sampai kepada mayyit tanpa ada perselisihan.Yg masih khilafiyyah adalah pahala selian kedua ‘benda’ tsb, seperti bacaan al-Qur’an, yakni bahwa pahala bacaan al-Qur’an ada yg menyatakan sampai ke org mati, ada yg mengatakan tidak sampai.
Nah, oleh karena itu, bagi yg mengeluarkan kata2 seperti di atas hendaknya dicabut saja karena ternyata ada beberapa ‘transfer’ pahala yg sudah ijma’ lho..

IJMA’ ULAMA TENTANG ‘TRANSFER’ PAHALA DOA DAN SHODAQOH
Para ulama berdalil dengan menggunakan hadits Bukhori no. 1388 dan Muslim no. 1004 dan hadits dengan redaksi yg mirip pada no. 1630. Berikut hadits Muslim 1004:


1004. Dari Aisyah RA bahwasannya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak, dan aku berpikir jika ia sempat berbicara, maka ia akan bershodaqoh, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bershodaqoh atas namanya ?” Beliau Saw menjawab: “Ya”

Dari hadits di atas, jelas sekali laki2 tsb bertanya tentang apakah ‘transfer’ pahala shodaqoh bisa sampai kepada ibunya yg sudah meninggal atau tidak, dan Rosulullah Saw ternyata berkata YA ! Dari hadits ini, Imam Nawawi berkata dalam Syarah-nya terhadap Shohih Muslim:

“Dari hadits ini, terdapat pengertian bahwa shodaqoh dari mayyit bisa bermanfaat baginya dan pahalanya pun sampai kepada mayyit, dan hal itu merupakan ijma’ ‘ulama, sebagaimana ulama juga ber-ijma’ atas sampainya do’a dan membayar hutang si mayyit berdasarkan nash2 yang telah warid tentang semua itu. Begitupula sah berhaji atas nama mayyit apabila itu haji Islam, dan begitu juga ketika berwasiat haji sunnah berdasarkan pendapat yang lebih shohih. Akan tetapi ulama berikhtilaf tentang orang yang meninggal dunia namun masih memiliki tanggungan puasa, maka pendapat yang rojih (kuat) adalah memperbolehkannya (berpuasa atas namanya) berdasarkan hadits2 shohih tentang hal itu.” (Syarah Shohih Muslim lil Imam an-Nawawi, 7/125)

Bisa dilihat di atas bahwa doa dan pahala shodaqoh yg ‘ditransfer’ oleh org hidup bisa sampai kepada org mati berdasarkan ijma’ ulama.

Dan berikut hadits yg mirip, hadits no. 1630:



Perhatikan judul bab yg ditulis oleh Imam Muslim: “Bab Sampainya Pahala Shodaqoh kepada Mayyit”
1630. Dari Abu Huroiroh RA, bawasannya ada seorang laki2 yg bertanya pada Rosul Saw: “Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi ia tidak berwasiat. Apakah (Allah) akan menghapuskan kesalahannya karena sedekahku atas namanya ?” Beliau Saw menjawab: “Ya.”

Dalam mensyarahi hadits tsb, Imam Nawawi juga berkata:



“Dalam hadits ini, terdapat pengertian akan kebolehan bershodaqoh atas nama mayyit dan itu disunnahkan, dan sesungguhnya pahalanya akan sampai kepada mayyit dan bermanfaat baginya. Bagi yg menshodaqohkannya pun mendapat manfaatnya juga.Ummat Islam telah ber-ijma’ atas semua ini. Masalah ini sebenarnya sudah berlalu yaitu di awal kitab Syarah ini dalam mensyarahi muqoddimah dari Shohih Muslim. Hadits ini (no. 1630) merupakan pengkhususan dari keumuman firman Allah Ta’ala berikut: وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ : “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” [QS. An-Najm: 39].” (Syarah Shohih Muslim lil Imam an-Nawawi, 11/121)

Ijma’ tsb juga telah dinyatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya terhadap ayat di atas (an-Najm: 39):



Bergaris merah: “Dan adapun do’a dan shodaqoh, maka pada yang demikian ulama telah ijma’ atas sampainya pahala keduanya kepada mayyit, dan telah ada nash2 dari syariat atas keduanya.” (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim li Ibni Katsir, 7/222)

Begitu pula yg dikatakan oleh al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali, salah seorang ulama yg mu’tamad (dipegangi) dalam madzhab Hanbali. Berikut:


“Fashal: Mengerjakan qurubah (amaliyah untuk mendekatkan diri kepada Allah) dan menjadikan pahalanya untuk orang mati yang muslim, maka niscaya itu memberikan manfaat baginya, insya Allah. Adapun do’a, istighfar, shodaqoh, dan menegakkan ibadah wajib, maka aku tidak mengetahui adanya perselisihan tentang sampainya hal itu, apabila perkara wajib tsb termasuk dari perkara wajib yang niyabah (bisa dipindahkan, seperti membayar hutang, puasa, dll).” (Al-Mughni lil Imam Ibni Qudamah, 3/519)


Dari keterangan2 di atas, didapat kesimpulan bahwa ‘transfer’ pahala berupa shodaqoh dan doa bisa sampai kepada org mati berdasarkan ijma’. Oleh karena itu, apabila ada org yg berpendapat berbeda setelah adanya ijma’, maka pendapatnya tsb berhak ditolak dan bisa dikatakan bahwa ia salah berijtihad. Jadi, ‘transfer’ pahala itu ada loh ya dalam syari’at Islam, bukan bid’ah.. Oleh karena itu, ayo mulai sekarang qta rajin2 bershodaqoh dan pahalanya diniatkan untuk anggota keluarga qta yg sudah meninggal.


KHILAFIYYAH ULAMA TENTANG ‘TRANSFER’ PAHALA BACAAN AL-QUR’AN

Sudah dikatakan di awal bahwa ‘transfer’ jenis ini merupakan khilafiyyah diantara para ulama. Dan sebagai muslim yg cerdas, hendaknya qta mengetahui dan mengamalkan pendapat mana yg paling rojih (kuat) dan menjadi pendapat jumhur (sebagian besar) ulama.

Mengenai ini, pendapat madzhab tiga, yaitu madzhab Hanafi, madzhab Maliki, dan madzhab Hanbali mengatakan bahwa pahala bacaan al-Quran sampai kepada org mati. Adapun dalam madzhab Syafi’i, terjadi perbedaan pendapat, bahkan ada Qoul Masyhur dari Imam Syafi’i bahwa pahala bacaan Quran tidak sampai kepada org mati. Begaimana ini ? Apakah benar pengertian Qoul Imam Syafi’i tsb adalah mengatakan tidak sampai ? Lalu apakah benar madzhab Syafi’i memegang pendapat itu ?? Insya Allah akan qta bahas di bawah.

Al-Imam al-Khothib asy-Syarbini asy-Syafi’i mengatakan dalam kitab Mughnil Muhtaj ilaa Ma’ani Alfazh al-Minhaj, sebagai syarah dari kitab Minhaj ath-Tholibin karya Imam an-Nawawi:

وحكى المصنف في شرح مسلم والأذكار وجها أن ثواب القراءة يصل إلى الميت كمذهب الأئمة الثلاثة، واختاره جماعة من الأصحاب منهم ابن الصلاح، والمحب الطبري،وابن أبي الدم، وصاحب الذخائر، وابن أبي عصرون، وعليه عمل الناس، وما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن
“Dan diceritakan oleh mushonnif (Imam an-Nawawi) di dalam Syarah Shohih Muslim dan al-Adzkar tentang suatu pendapat bahwa pahala bacaan al-Qur’an itu bisa sampai kepada mayyit, seperti madzhab A’immatuts Tsalatsah (Imam Tiga: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal), dan jama’ah dari al-Ashhab (para ulama Syafi’iyyah) telah memilih pendapat ini, diantaranya al-Hafizh Ibnu Sholah, al-Muhib ath-Thobari, Ibnu Abid Dam, pemilik kitab adz-Dzakho’ir (?), dan Ibnu Abi ‘Ishruun, dan ummat Islam beramal dengan hal tersebut. Apa yang oleh kaum Muslimin dipandang baik, maka itu baik di sisi Allah.” (Mughnil Muhtaj lil Imam asy-Syarbini, 4/110)

Dari keterangan di atas didapat tiga informasi:
  1. Madzhab Imam Tiga (Hanafi, Maliki, Hanbali) menyatakan akan sampainya pahala bacaan Qur’an kepada org mati, yg dengan ini menandakan bahwa jumhur (sebagian besar) ulama menyatakan sampainya pahala bacaan Quran pada org mati.
  2. Madzhab Syafi’i terdapat perbedaan, dan seperti yg dikatakan Imam asy-Syarbini, jama’ah/sekelompok dari Ash-habus Syafi’i memilih pendapat seperti pendapat Imam Tiga, yakni sampainya pahala bacaan Qur’an kpd org mati.
  3. Ummat Islam beramal dengan hal tsb, yg artinya ummat Islam senantiasa menghadiahkan pahala bacaan Qur’an kpd org mati diantara mereka. Ini semakin memperkuat bahwa sebagian besar ulama menyatakan sampainya pahala bacaan Quran kpd org mati, dan ummat Islam beramal dg hal ini.

Begitu pula yg dinukil oleh al-Imam al-Bujairami asy-Syafi’i:


“Perkataannya: “dan hendaknya membaca sesuatu yg mudah dr al-Qur’an di sisi kubur mereka”. Sungguh telah masyhur bahwasannya barangsiapa yg membaca surat al-Ikhlas sebanyak 11 kali lalu menghadiahkan pahalanya kepada penghuni kubur, maka dosa2nya akan diampuni sejumlah penghuni pekuburan tsb. Dan sungguh al-Hafizh as-Suyuthi telah menukil bahwa jumhur (sebagian besar) ulama Salaf dan A’immatuts Tsalatsah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad) menyatakan sampainya pahala bacaan al-Qur’an kepada mayyit. Akan tetapi Imam al-Qorrofi menyebutkan bahwa dalam madzhab Maliki, pahala bacaan Qur’an tidak sampai kpd mayyit. Akan tetapi di dalam al-Minhaj, Syarah2-nya, dan Hasyiyah2-nya menyatakan bahwa dalam madzhab Maliki pahala bacaan Qur’an bermanfaat bagi mayyit. Adapun shodaqoh dan doa dari ahli waris si mayyit atau org lain, itu bisa sampai kpd mayyit berdasarkan ijma’ dan selainnya. Adapun firman Allah yg berbunyi (dalam surat an-Najm: 39): وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ : “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”, itu adalah ayat yg ‘Amm Makhshush (dalil umum yg dikhususkan) dengan ijma’ tsb dan selainnya, bahkan dikatakan ayat itu Mansukh (terhapus hukumnya).” (Hasyiyah al-Bujairami ‘alal Khothib, 2/574)

Dari sini, didapat kesimpulan bahwa jumhur (sebagian besar) ulama Salaf dan Imam Tigamenyatakan akan sampainya pahala bacaan Qur’an kepada mayyit.

Bagaimana dengan Qoul Masyhur Imam Syafi’i bahwa pahala bacaan Quran tidak sampai kepada org mati ? Lalu bagaimana sebenarnya pendapat madzhab Syafi’i secara umum tentang masalah ini ?? Sebelum menuju kesitu, ada pernyataan bagus dari al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali:



“Sebagian mereka berkata (maksudnya sebagian ulama2 Syafi’iyyah): “jika dibacakan al-Qur’an di sisi mayyit atau menghadiahkan pahalanya untuk mayyit, maka pahalanya untuk pembacanya, dan mayyit seperti org yg hadir yg diharapkan turunnya rahmat padanya atas pembacaan al-Quran tsb”. Tetapi bagi kami (madzhab Hanbali), apa yg sudah kami sebutkan tentangnya, yaitu bahwa sesungguhnya membaca al-Qur’an untuk mayyit merupakan ijma’ kaum Muslimin, sebab mereka di setiap masa dan kota mereka berkumpul, mereka membaca al-Qur’an, dan menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang mati diantara mereka TANPA ADA YANG MENGINGKARINYA.” (Al-Mughni lil Imam Ibni Qudamah, 3/521)

Lihatlah, menurut al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi bahwasannya berkumpul dan membaca al-Qur’an serta menghadiahkan pahalanya kepada org mati adalah ijma’ kaum Muslimin dari masa ke masa dan di setiap kota, TANPA ada yg mengingkarinya. Perbuatan semacam itu sama seperti amaliah kaum Muslimin yg populer yg dilakukan setelah meninggalnya seseorang, yaitu TAHLILAN. Kegiatan Tahlilan tidak lain adalah berkumpul untuk membaca al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya untuk org mati. Dan menurut al-Imam Ibnu Qudamah, kegiatan Tahlilan ini telah berlangsung sejak dahulu dan dilakukan dimanapun tanpa ada yg mengingkarinya !!! Hhehee..
Jadi sebenernya dari sini pun telah diketahui bahwasannya menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an kpd org mati adalah pendapat jumhur ulama (kalau tidak mau dikatakan ijma’) dari masa ke masa dan di setiap tempat.


MADZHAB SYAFI’I TENTANG ‘TRANSFER’ PAHALA BACAAN AL-QUR’AN

Akhirnya qta sampai pada bahasan yg sangat penting dimana org2 yg tidak suka dg amaliah ‘transfer’ pahala bacaan Qur’an ini (you know who I mean) selalu mengatakan: “katanya ngaku madzhab Syafi’i, tapi kok rajin banget ‘nransfer’ pahala al-Fatihah (atau ayat lainnya) ke org mati ??!! Kan dalam madzhab Syafi’i pahala bacaan Qur’an tidak sampai ke org mati !!”, atau perkataan semacamnya.
Kami ingatkan, hendaknya mereka tidak usah ‘songong’ dan ‘sotoy’ tentang madzhab Syafi’i, apalagi mereka bukanlah ulama (begitu juga kita). Siapa yg lebih faham tentang madzhab Syafi’i daripada para ulama madzhab Syafi’i sendiri ??

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsir-nya ketika menafsiri QS. An-Najm: 39 [kutipannya sudah disampaikan di atas]:


Bergaris hitam: “Dari ayat yg mulia ini, Imam Syafi’i rohimahullah dan org2 yg mengikutinya ber-istinbath (melakukan penggalian hukum) bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada org mati karena hal itu bukanlah amalnya dan bukan usahanya.” (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim li Ibni Katsir, 7/222)

Begitupula Imam Nawawi mengatakan:



“Dan yg masyhur (Qoul Masyhur) dalam madzhab kami (Syafi’i) adalah bahwa pahala bacaan Qur’an tidak sampai kepada mayyit. Akan tetapi jama’ah dari Ash-hab kami (para ulama Syafi’iyyah) berkata: “pahalanya sampai”, dan dengan ini Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat. Adapun sholat dan amalan ketaatan lainnya, maka pahalanya juga tidak sampai menurut kami, tetapi tidak menurut jumhur ulama. Imam Ahmad berkata: “pahala semua amalan ketaatan bisa sampai kepada mayyit, seperti pahala haji.” (Syarah Shohih Muslim lin Nawawi, 7/126)
Dari keterangan di atas, didapat informasi bahwa Qoul Masyhur dalam madzhab Syafi’i adalah tidak sampai, tetapi sebagian ulama Syafi’iyyah lain menyatakan sampai. [Sebenarnya ini juga sudah dikatakan oleh Imam asy-Syarbini di atas].

Baik, qta hendaknya tidak boleh berhenti sampai di sini saja. Bagaimana sebenarnya penjelasan para ulama Syafi’iyyah sendiri atas Qoul Masyhur tsb ? Mari qta lihat.

Pernyataan Qoul Masyhur Imam Syafi’i bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada mayyit adalah tidak mutlak. Ini dikarenakan ada qoul lain dari Imam Syafi’i sendiri yang menyatakan sebaliknya, yaitu beliau berkata dalam kitab fenomenalnya, al-Umm:


“Aku (Imam Syafi’i) menyukai dibacakannya al-Qur’an di sisi kubur dan berdoa untuk mayyit. Dan tidak ada doa yang memiliki waktu tertentu dalam hal itu (maksudnya boleh kapan saja).” (Al-Umm lil Imam asy-Syafi’i, 2/645)

Perhatikan di situ ada redaksi bahwa Imam Syafi’i menyukai dibacakannya al-Qur’an di sisi kubur ! Pertanda apa ini ??

Jadi begini, Imam Syafi'i mempunyai dua qoul:
  1. Qoul Masyhur beliau bahwa bacaan Qur'an tidak sampai kpd org mati.
  2. Qoul beliau tentang disukainya membaca al-Qur'an di sisi kubur.

Nah, dari sini terlihat bahwa 2 qoul tsb seakan2 bertentangan. Beliau menyatakan tidak sampainya pahala bacaan Qur'an kpd org mati, tapi kok di qoul lain beliau menyatakan suka terhadap pembacaan Qur'an di sisi kubur ? Oleh karena itu, para 'ulama Syafi'iyyah menjelaskan maksud qoul2 beliau tsb dan menjamaknya.

Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshori asy-Syafi’i mengatakan dalam kitabnya perihal Qoul Masyhur tsb:

وما قاله من مشهور المذهب محمول على ما إذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو ثواب قراءته له أو نواه ولم يدع بل قال السبكي الذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن إذا قصد به نفع الميت نفعه وبين ذلك وقد ذكرته في شرح ﺍﻠﺭﻮﻀﺔ
“Dan apa yang dikatakan dalam Qoul Masyhur, itu dalam pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayyittidak meniatkan pahala bacaannya untuknyadan tidak mendo’akannya. Bahkan Imam Taqiyuddin as-Subki berkata: “yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila diqashadkan (diniatkan) agar dengan bacaannya dapat bermanfaat bagi mayyit, maka akan sampai. Dan diantara yang semacam itu, sungguh telah aku (Imam as-Subki) tuturkan di dalam kitab syarah ar-Raudloh.” (Fathul Wahab li Zakariyya al-Anshori, 2/23)

Begitu pula yg dikatakan oleh al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami, seorang ulama yg menjadi rujukan tertinggi dalam madzhab Syafi’i setelah Imam an-Nawawi. Berikut katanya:


“Perkataan Imam Syafi’i rodliyallahu ‘anhu bahwasannya hendaknya (peziarah) membaca sesuatu yg mudah dari al-Qur’an di sisi kuburnya dan mendoakan sampainya pahala bacaan Qur’an tsb kepadanya. Perkataan Imam Syafi’i dalam masalah mendoakan sampainya pahala bacaan Qur’an kepada mayyit (di sisi kubur) ini memperkuat pernyataan ulama-ulama Muta’akhkhirin dalam membawa Qoul Masyhur dalam pengertian apabila tidak dibacakan di hadapan mayyit atau apabila tidak mengiringinya dengan do’a.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubro li Ibni Hajar al-Haitami, 2/27)

Dari keterangan2 di atas, didapat informasi bahwa Qoul Masyhur Imam Syafi’i yg menyatakan tidak sampainya pahala bacaan Qur’an kepada mayyit, itu ketika ia dalam kondisi: tidak dibaca di hadapan mayyit, tidak meniatkannya untuk mayyit, dan tidak mendoakannya untuk mayyit. Jadi, apabila kondisi2 tsb tidak ada, maka Imam Syafi’i pun sebenarnya menyatakan sampainya pahala bacaan Qur’an kpd mayyit.

Hal itu sebagaimana yg dikatakan jg oleh al-Imam al-Bujairami:



“Perkataannya: “karena sesungguhnya do’a bermanfaat bagi mayyit”. Walhasil, sesungguhnya apabila pahala bacaan al-Qur’an diniatkan untuk mayyit, atau dido’akan sampainya pahala bacaan al-Qur’an kepada mayyit mengiringi bacaan al-Qur’an tsb, atau membaca al-Qur’an di samping kubur, maka akan sampai pahala bacaan al-Qur’an tsb kepada mayyit, dan bagi si qori (pembaca) juga mendapatkan pahala.” (Hasyiyah al-Bujairami ‘alal Khothib, 2/574)

Begitupula asy-Syaikh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya:

والتحقيق أن القراءة تنفع الميت بشرط واحد من ثلاثة أمور إما حضوره عنده أو قصده له، ولو مع بعد أو دعاؤه له، ولو مع بعد أيضا اه
“Dan penelitian bahwa bacaan al-Qur’an dapat memberikan manfaat bagi mayyit dengan memenuhi salah satu dari 3 syarat: Pertama apabila dibacakan di hadapan (atau di sisi) mayyit, kedua apabila diniatkan untuk mayyit walaupun jaraknya jauh, ketiga apabila mendo’akan (bacaaannya) untuk mayyit walaupun jaraknya juga jauh. Selesai.” (Hasyiyah al-Jamal, 2/210)

Bagaimana ?? Sudah tahu maksud Qoul Masyhur Imam Syafi’i ?? Jadi, hendaknya bagi yg tidak bermadzhab Syafi’i, tidak usah ‘grasa-grusu’ apalagi mengada-ada dalam membawa pendapat2 Imam Syafi’i dan para Ash-habnya...

Perlu diketahui pula bahwasannya dalam madzhab Syafi’i, selain ada Qoul Masyhur, ada pula Qoul Mukhtar, yaitu pendapat yg dipilih, dan inilah yg dijadikan pegangan oleh para ulama Syafi’iyyah. Berikut Imam an-Nawawi berkata:

والمختار الوصول إذا سأل الله أيصال ثواب قراءته، وينبغى الجزم به لانه دعاء، فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعى، فلان يجوز بما هو له أولى، ويبقى الامر فيه موقوفا على استجابة الدعاء، وهذا المعنى لا يخص بالقراء بل يجرى في سائر الاعمال، والظاهر أن الدعاء متفق عليه انه ينفع الميت والحى القريب والبعيد بوصية وغيرها
“Dan pendapat yang dipilih (Qoul Mukhtar) adalah sampai pahalanya, apabila memohon kepada Allah menyampaikan pahala bacaannya. Dan selayaknya untuk melanggengkan hal ini karena sesungguhnya ini adalah do’a, sebab apabila boleh berdo’a untuk orang mati dengan perkara yang tidak ditujukan untuk org yang berdo’a tsb, maka kebolehan dengan hal itu (membaca al-Qur’an) bagi mayyit adalah lebih utama, dan pengertian semacam ini tidak hanya khusus pada pembacaan al-Qur’an saja, bahkan juga pada seluruh amal-amal lainnya. Dan do’a, faktanya adalah para ulama telah sepakat bahwa itu bermanfaat bagi mayyit maupun orang hidup, baik dekat maupun jauh, baik dengan wasiat atau tanpa wasiat.” (Al-Majmu’ lil Imam an-Nawawi, 15/522)

Jadi, madzhab Syafi’i menyatakan sampai atau tidak ?? Silakan dipikirkan.


PENDAPAT IBNU TAIMIYYAH DAN IBNUL QOYYIM TENTANG ‘TRANSFER’ PAHALA BACAAN AL-QUR’AN

Mengapa pendapat beliau berdua perlu dicantumkan disini ? Karena beliau berdua adalah ulama yg menjadi rujukan utama bagi org2 yg tidak suka dg amaliah ‘transfer’ pahala bacaan Qur’an ini.

Ibnu Taimiyyah mengatakan:


“Ibnu Taimiyah ditanya tentang firman Allah: وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” [QS. An-Najm: 39], dan sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam “apabila anak adam wafat, maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat untuknya, dan anak sholeh yang berdo’a untuknya” [HR. Muslim], apakah hal itu menunjukkan bahwa apabila seseorang wafat,  maka tidak ada satupun perbuatan2 kebajikan yg sampai kepadanya ?
Ibnu Taimiyyah menjawab: Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin, tidak ada dalam ayat tsb dan tidak pula di dalam hadits tsb bahwa mayyit tidak bisa mendapatkan manfaat dengan do’a untuknya dan dengan apa yang diamalkan untuknya dari perbuatan2 kebajikan (termasuk membaca al-Qur’an). Bahkan para Imam telah sepakat bahwa mayyit mendapatkan manfaat atas hal itu, dan ini diketahui dengan jelas dalam agama Islam, dan sungguh al-Kitab (al-Qur’an), as-Sunnah, dan Ijma’ telah menunjukkannya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyelisihi hal itu, maka dia adalah ahli bid’ah !!!” (Majmu’ Fatawa li IbniTaimiyyah, 24/306)

Mantep bukan pendapat Ibnu Taimiyyah di atas ?? Menurut beliau, org yg menolak bahwa pahala amal kebajikan dapat sampai kepada mayyit, justru dialah yg ahli bid’ah,, bukan kami yg senantiasa Tahlilan dan baca al-Fatihah untuk keluarga dan guru2 kami yg sudah meninggal... Hhehee.

Di halaman selanjutnya, Ibnu Taimiyyah mengatakan:


“Ibnu Taimiyyah ditanya tentang bacaan al-Qur’an oleh keluarga mayyit, apakah pahalanya bisa sampai kepada mayyit ? Begitupula bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, apabila dihadiahkan kepada mayyit, apakah semua pahala tsb akan sampai kpd mayyit atau tidak ?? Beliau menjawab: Bacaan Qur’an oleh keluarganya tsb akan sampai kepada mayyit. Begitupula bacaan tasbih mereka, takbir mereka, dan dzikir2 lainnya, jika mereka menghadiahkannnya kepada mayyit, maka akan sampai padanya. Wallahu A’lam.” (Majmu’ Fatawa li Ibni Taimiyyah, 24/307)


Pendapat Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah:


“Adapun bacaan al-Qur’an dan menghadiahkannya kepada mayyit dengan ikhlas tanpa imbalan (upah), maka hal tsb akan sampai kepada mayyit seperti sampainya pahala puasa dan haji.” (Ar-Ruh li Ibnil Qoyyim, hal. 191)

Bagaimana ?? Mangga dipikirkan lg bagi yg menjadi pengikut beliau berdua.

Sebenarnya setelah itu Ibnul Qoyyim menyebutkan banyak sekali pasal tentang hujjah2 sampainya pahala bacaan Qur’an kpd mayyit dan sanggahan2 bagi org2 yg menolaknya. Insya Allah di lain kesempatan qta akan bahas tentang itu.


Sebelum ditarik kesimpulan, berikut ini ada 2 kisah yg sangat ajib dan menarik untuk qta ketahui.

  • Al-Imam al-Mufassir Fakhruddin ar-Rozi. Beliau adalah ulama tafsir besar yg kitab tafsirnya menjadi salah satu rujukan utama bagi kaum Muslimin. Nama kitab tafsirnya adalah Tafsir al-Kabir atau juga disebut Mafatihul Ghoib. Beliau mengatakan dalam akhir tafsir surat Hud, bahwa putra beliau telah wafat:


“Telah selesai tafsir surat ini (surat Hud) sebelum datangnya waktu Shubuh, yaitu malam Senin bulan Rajab tahun 601 H. Semoga Allah menyempurnakannya dengan kebaikan dan barokah. Aku mempunyai anak laki2 yg sholih dan memilki hidup yg baik, ia wafat di tempat yg asing (bukan di negerinya) pada usia mudanya yg cemerlang. Hatiku bagaikan terbakar karena sebab itu.” (Tafsir al-Kabir lil Imam ar-Rozi, 18/84)

Kemudian beliau berkata di akhir tafsir surat Yusuf:


“Aku berwasiat kepada org2 yg mentelaah kitabku ini dan mengambil faedah darinya agar secara khusus membacakan surat al-Fatihah untuk anakku dan diriku, serta mendoakan orang-orang yang meninggal di tempat asing yg jauh dari sanak saudara, ayah, dan ibunya dengan doa rahmat dan ampunan. Dan aku sendiri juga banyak berdoa bagi org yg melakukan hal tsb. Wa shallalahu ‘ala Sayyidina wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam tasliman katsiro. Aamiin walhamdulillahirobbil ‘alamin.” (Tafsir al-Kabir lil Imam ar-Rozi, 18/233 – 234)

Menarik bukan ? Imam ar-Rozi berwasiat untuk men-‘transfer’ bacaan al-Fatihah kepada anaknya dan dirinya...

  • Al-Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam. Beliaulah ulama yg digelari “Sulthonul ‘Ulama” (pemimpinnya para ulama). Kepopuleran nama beliau tidak usah diragukan lagi bagi kalangan ahli ilmu dan penuntut ilmu. Beliau berfatwa bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada org mati. Namun ? Perhatikan kisah yg dikemukakan oleh al-Imam al-Qurthubi:

وَكَذٰلِكَ بَلَغَنَا عَنِ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّيْنِ عَبْدِ السَّلاَمِ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّهُ يُنْكِرُ وُصُوْلَ ثَواَبِ اْلقِرَأَةِ لِلْمَوْتَى وَ يَقُوْلُ تَعَالَى:وَاَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّ مَاسَعٰى فَلَمَّا مَاتَ رَاٰهُ بَعْضُ أَصَحَابَهِ فَسَأَلَهُ عَنْ ذٰلِكَ فَقَالَ فَقَدْ رَجَعْتُ عَمَّا كُنْتُاَ قُوْلُهُ مِنْ عَدَمِ وُصُوْلِ الثَّوْبِ إِلَى الْمَوْتَى مِنَ اْلقَارِئِ حِيْنَ رَأَيْتُ وُصُوْلَهُ وَأَنَا فِى اْلقَبْرِ
“Demikian juga telah sampai berita kepada kami tentang Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam bahwa beliau mengingkari sampainya pahala bacaan al-Qur’an bagi orang mati. Dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala (dalam surat an-Najm ayat 39): وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. Tetapi setelah beliau meninggal dunia, sebagian sahabatnya melihatnya di dalam mimpi, lalu mereka bertanya tentang pendapatnya itu. Beliau [syaikh ‘Izzuddin] menjawab: “Sesungguhnya aku telah rujuk [menarik kembali tentang apa yang pernah diucapkannya] tentang tidak sampainya pahala membaca al-Qur’an kepada orang-orang mati dr org yg membacanya. Sayang, aku telah melihat ini bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada org mati, tetapi aku sudah di dalam kubur.” (Mukhtashar at-Tadzkirat lil Imam al-Qurthubi, hal. 25)

Menarik bukan ? Perhatikan, ‘Izzudin bin ‘Abdis Salam sudah merasakannya sendiri !! Ruh yg dijumpai di dalam tidur qta adalah suatu hal yg sangat mungkin terjadi, sesuai yg dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Tholib. Untuk itu, bagi yg tidak percaya akan sampainya pahala bacaan Qur’an kpd org mati, silakan mati dulu, lalu org2 yg hidup akan membacakannya untuknya. Buktikan sendiri.. Hhehee.

NB: Imam al-Qurthubi dan Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam adalah sezaman. Imam al-Qurthubi wafat tahun 671 H dan Imam ‘Izzuddin wafat tahun 660 H.


KESIMPULAN: Pahala bacaan al-Qur’an bisa sampai kepada org mati menurut jumhur (sebagian besar) ulama, bahkan bisa dikatakan hampir semua ulama berpendapat demikian.

Wallahu A’lam.
sumber : Note Facebook Teman


Mon, 7 Sep 2015, 9:24 pm


Balkanisasi (Inter-ic) di Internazionale Milan


Setelah bertahun-tahun didominasi para pemain dari Amerika Latin, terutama Argentina, FC Internazionale Milan musim ini sepenuhnya memulai era baru. Tak ada lagi Argentina connection dalam skuad Inter. Gantinya, I Nerazzurri musim ini dipenuhi oleh para pemain asal Balkan.

Ya, musim ini, para pemain Inter didominasi dari negara-negara tersebut. Pemain asal Balkan teranyar yang didatangkan Inter adalah Adem Ljajic (Serbia). Ljajic datang di pengujung bursa transfer bersama Felipe Melo dan Alex Telles. Total Inter mendatangkan 11 pemain baru di sepanjang bursa awal musim ini.

Dari 11 pemain itu, empat pemain diantaranya berasal dari wilayah Balkan. Mereka adalah Adem Ljajic (Serbia), Stevan Jovetic (Montenegro), Ivan Perisic (Kroasia) dan Rey Manaj (Albania). Keempatnya semakin menguatkan aroma Balkan dalam skuad Roberto Mancini musim ini. Pasalnya, sebelum kedatangan keempat pemain itu, Mancini sudah memiliki Samir Handanovic (Slovenia), Marcelo Brozovic (Kroasia) dan Nemanja Vidic (Serbia).

Ya, kini skuad Inter memiliki tujuh pemain asal Balkan. Balkanisasi ini sekaligus mengakhiri era Argentina connection yang sempat mendominasi skuad Inter selama sekitar 10 tahun terakhir. Di era Argentina connection, Inter memiliki pemain-pemain seperti Javier Zanetti, Hernan Crespo, Julio Cruz, Nicolas Burdisso, Esteban Cambiasso, Walter Samuel, Diego Milito, Ricky Alvarez dan lain-lain.

Sekarang hanya ada Mauro Icardi, Ricardo Palacio dan Juan Pablo Carrizo yang berasal dari Argentina. Dalam skema permainan Mancini musim ini, tampaknya hanya Icardi satu-satunya pemain asal Argentina yang berpotensi menjadi starter. Sedangkan Palacio dan Carizzo hanya akan menjadi pelapis di posisi mereka masing-masing.

Tak ada yang tahu mengapa klub yang dimiliki Erick Thohir ini sekarang lebih berkiblat ke Balkan. Yang pasti, para pemain asal Balkan dikenal sebagai pemain yang memiliki skill, kecepatan dan kelugasan. Sejarah konflik yang berkepanjangan di di kawasan itu juga ikut membentuk mental para pemain asal Balkan. Akibat konflik yang berkepanjangan di masa lalu, para pemain asal Balkan tumbuh menjadi pemain tangguh dan bermental fighter.

Namun, apapun atribut yang dimiliki para pemain asal Balkan ini, pengakuan sesungguhnya baru akan mereka dapatkan jika berhasil mempersembahkan trofi untuk Inter. Di musim-musim sebelumnya, pendahulu mereka, yakni Argentina connection mendapat pengakuan dari fans setelah sukses mempersembahkan trofi Liga Champions.

Kini giliran pasukan Balkan yang akan mencoba peruntungan mereka bersama Inter. Ivan Perisic dan kawan-kawan ditantang untuk mempersembahkan trofi kepada fans. Ini tentu bukan tugas yang mudah. Apalagi Inter harus bersaing dengan AS Roma dan Juventus yang juga banyak mendatangkan pemain-pemain baru.

INTER RASA BALKAN

Secara geografis, Balkan merujuk pada wilayah di Eropa Tenggara yang memiliki luas wilayah 550.000 km² dengan jumlah penduduk sekitar 53 juta jiwa. Adapun Negara-negara yang termasuk wilayah Balkan adalah Albania, Bulgaria, Bosnia dan Herzegovina, Kroasia, Republik Makedonia, Montenegro, Serbia, Slovenia, Yunani dan sebagian wilayah Turki. Berikut adalah para pemain Balkan yang membela I Nerazzurri musim 2015/2016 :

Pemain Negara Usia Posisi Samir Handanovic Slovenia 31 tahun Kiper Nemanja Vidic Serbia 33 tahun Bek Marcelo Brozovic Kroasia 22 tahun Gelandang Adem Ljajic Serbia 23 tahun Penyerang Ivan Perisic Kroasia 26 tahun Penyerang Stevan Jovetic Montenegro 25 tahun Penyerang Rey Manaj Albania 18 tahun Penyerang

Prediksi formasi musim ini (2015/2016) :
------------------------------------------+++++++++++++++++--------------------------------

Kemungkinan trio Balkan (Ljajic, Jovetic, Perisic) akan mengisi posisi sebagai penyerang, dan bisa saja sekitar 4 sampai 5 orang pemain asal Balkan akan mengisi Line-up Inter Milan.

Formasi Inter Milan (4-2-3-1):
Inti : Handanovic; Santon, Miranda, Murillo, Alex Telles, Melo, Kondogbia, Ljajic, Jovetic, Perisic, Icardi
Cadangan : J.Carrizo, T.Berni, Montoya, Nagatomo, Ranochia, Juan Jesus, Vidic, F.Dimarco, D'Ambrosio, Dodo, Guarin, Medel, Gnoukouri, Brozovic, Palacio, Manaj, J.Biabiany
Pelatih : Roberto Mancini


------------------------------------------+++++++++++++++++--------------------------------

Lantas bagaimana peluang pasukan Balkan ini dalam meraih trofi? Sebagai Insteristi saya hanya bisa berharap dan mendo'akan yang terbaik semoga Inter Milan bisa merebut kembali Scudetto Serie-A dan Copa Italia pada musim ini. Kita lihat saja pertandingan demi pertandingan ke depan, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Forza Inter Amala !!!!



sumber : indopos.co.id , inter.it , goal.com


Tue, 1 Sep 2015, 10:09 pm


ETIKA DALAM BERSENGGAMA DENGAN ISTRI


Persiapan Perang Khusus " Suami"تدليك العضو الذكرى بزيت الزيتزن وعسل النحل الطبيعى يعمل على زياده قوة الانتصاب"Mengurut Mr. P, memakai minyak zait zaitun dan madu lebah konon dapat menambah ketahanan ereksi"Tapi yang terpenting dari kesemua itu tentunya menjaga vitalitas, kebugaran dan dapat mengontrol kestabilan pikiran..... Koyok Dr. Boyke,, HeheBerkata al-Fannaany dari kalangan Syafi’iyyah “Diperbolehkan bagi suami bersenang-senang dengan segala cara bersama istrinya bahkan hingga menghisap kelentitnya asal bukan menyetubuhi anusnya.Kalangan Hanabilah menilai mencium kelamin istri sebelum senggama diperbolehkan namun setelah senggama di makruhkan.
Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 32/90( تتمة ) يجوز للزوج كل تمتع منها بما سوى حلقة دبرها ولو بمص بظرها أو استمناء بيدها لا بيده وإن خاف الزنا خلافا لأحمد ولا افتضاض بأصبع
ويسن ملاعبة الزوجة إيناسا وأن لا يخليها عن الجماع كل أربع ليال مرة بلا عذر وأن يتحرى بالجماع وقت السحر وأن يمهل لتنزل إذا تقدم إنزاله وأن يجامعها عند القدوم من سفره وأن يتطيبا للغشيان وأن يقول كل ولو مع اليأس من الولد بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا وأن يناما في فراش واحد والتقوي له بأدوية مباحة بقصد صالح كعفة ونسل وسيلة لمحبوب فليكن محبوبا فيما يظهر قاله شيخنا ويحرم عليها منعه من استمتاع جائز ويكره لها أن تصف لزوجها أو غيره امرأة أخرى لغير حاجة
( قوله بما سوى حلقة دبرها ) أما التمتع بها بالوطء فحرام لما ورد أنه اللوطية الصغرى وأنه لا ينظر الله إلى فاعله وأنه ملعون ( قوله ولو بمص بظرها ) أي ولو كان التمتع بمص بظرها فإنه جائز
قال في القاموس البظر بالضم الهنة وسط الشفرة العلياآداب الجماع :
للجماع آداب كثيرة ثابتة في السنة النبوية منها مايأتي (1) : تستحب التسمية قبله، ويقرأ { قل هو الله أحد } [الإخلاص:1/112]، ويكبر ، ويهلل، ويقول ولو مع اليأس عن الولد: « باسم الله العلي العظيم، اللهم اجعلها ذرية طيبة، إن كنت قدرت أن تخرج ذلك من صلبي » « اللهم جنِّبني الشيطان، وجنب الشيطان مارزقتني » رواه أبو داود. وينحرف عن القبلة، ولايستقبل القبلة با...لوقاع، إكراماً للقبلة. وأن يتغطى نفسه هو وأهله بغطاء، وألا يكونا متجردين (2) فذلك مكروه كما سيأتي.وأن يبدأ بالملاعبة والضم والتقبيل. وإذا قضى وطره، فليتمهل لتقضي وطرها ، فإن إنزالها ربما تأخر. ويكره الإكثار من الكلام حال الجماع، ولايخليها عن الجماع كل أربع ليال مرة بلا عذر. وتأتزر الحائض بإزار مابين السرة والركبة إذا أراد الاستمتاع بها.
__________
(1) المغني: 25/7، إحياء علوم الدين: 46/2 ومابعدها، كشاف القناع: 216/5 ومابعدها، مختصر منهاج القاصدين: ص73، فتح المعين: ص 107،الأذكار للنووي: ص 159، نيل الأوطار: 194/6.
(2) روى ابن ماجه حديثاً عن عتبة بن عبد السُّلمي: « إذا أتى أحدكم أهله، فليستتر، ولايتجردا تجرد العَيْرين » أي الحمارين ( نيل الأوطار: 194/6).ومن أراد أن يجامع مرة ثانية، فليغسل فرجه، ويتوضأ؛ لأن الوضوء يزيد نشاطاً ونظافة. وليس في السنة استحباب الجماع في ليال معينة كالاثنين أو الجمعة، ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة….ويستحب في ليلة الزفاف قبل الجماع أن يأخذ الرجل بناصية المرأة ويقول: «اللهم إني أسألك من خيرها وخير ما جبلتها عليه، وأعوذ بك من شرها وشر ما جبلتها عليه» (1) .
__________
(1) ثبت ذلك بحديث رواه ابن ماجه وأبو داود عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده (نيل الأوطار: 189/6).*********************************Dalam menjalani hubungan ‘intim’ antara suami istri, islam mengajarkan berbagai macam etika yang telah diatur berdasarkan hadits-hadits Nabi, diantaranya :• Disunahkan membaca BASMALAH sebelum menjalani senggama kemudian membaca “QUL HUWA ALLAAHU AHAD” dilanjutkan dengan membaca takbir (ALLAAHU AKBAR), tahlil (LAA ILAAHA ILLALLAAH) dan disunahkan meskipun tidak sedang mengharapkan keturunan dari persenggamaannya untuk berdoa :بسم الله العلي العظيم، اللهم اجعلها ذرية طيبة، إن كنت قدرت أن تخرج ذلك من صلبي » « اللهم جنِّبني الشيطان، وجنب الشيطان مارزقتنيBISMILLAAHIL ’ALIYYIL ‘AZHIIM, ALLAAHUMA IJ’ALHAA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN IN KUNTA QADDARTA AN TAKHRUJA DZAALIKA MIN SHULBII, ALLAAHUMMA JANNIBNII AS-SYAITHAANA WA JANNIBIS SYAITHAANA MAA ROZAQTANII“Dengan menyebut nama Allah yang agung, Ya Allah, jadikanlah ia anak yang baik bila Engkau takdirkan ia lahir dari keturunanku, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepadaku.” (HR. Abu Daud).• Berpaling dari arah kiblat, jangan menghadap kiblat saat menjalani senggama sebagai bentuk penghormatan pada kiblat.
• Memakai penutup, jangan melakukan persenggamaan dengan telanjang bulat karena ini hukumnya makruh sepert sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam “Bila salah seorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, pakailah penutup dan janganlah kalian berdua telanjang seperti telanjangnya keledai” (HR. Ibn Maajah Nail al-Authaar VI/194).
• Diawali dengan cumbuan, sentuhan dan ciuman.
• Saat seorang suami telah mencapai orgasme, jangan berlalu begitu saja, hantarkan secara perlahan-lahan istrinya dalam mencapai orgasme karena tak jarang pencapaian klimaks seorang wanita datangnya cenderung belakangan.
• Dimakruhkan terlalu banyak pembicaraan saat melakukan senggama.
• Bila tanpa adanya ‘udzur (halangan), jangan biarkan empat malam sekali berlalu tanpa hubungan badan.
• Saat istri tengah datang bulan, sementara keinginan berhubungan tak dapat tertahankan, untuk menghindari keharaman sebaiknya istri memakai kain penutup pada anggota tubuh antara pusar dan lutut saat mencumbuinya.
• Bagi yang menginginkan mengulangi senggama untuk yang kesekian kalinya sebaiknya terlebih dahulu dicuci kelaminnya, karena hal ini dapat menambah gairah dan dapat menjaga kebersihan.
• Tidak ada anjuran khusus menjalani senggama dimalam-malam tertentu seperti malam senin atau jumah namun sebagian ulama ada yang mensunahkan menjalaninya dimalam jumah.
• Disunahkan bagi seorang suami dimalam pengantin saat berkeinginan menjalani persenggamaan terlebih dahulu memegang rambut depan (ubun-ubun) istrinya sambil berdoa :اللهم إني أسألك من خيرها وخير ما جبلتها عليه، وأعوذ بك من شرها وشر ما جبلتها عليهAllahumma inni as-aluka min khairihaa wa khairi ma jabaltuhaa 'alaiih, wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltuhaa 'alaiih.“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada mu kebaikannya (isteri) dan kebaikan apa yang saya ambil dari padanya, serta aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang aku ambil daripadanya" (HR. Ibn Majah dan Abu Dawud dari Umar Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nail al-Authaar VI/189).
___________________________________Referensi :
Al-Mughni VII/25, Ihyaa’ ‘Uluumiddiin II/46, Kisyaf alQana’ V/216, Mukhtashar Minhaj alQaashidiin hal. 73, Fath al-Mu’iin hal. 107, al-Adzkaar li an-Nawaawi hal. 159 dan Nail al-Authaar VI/194
___________________________________
Al-Fiqh al-Islaam IV/194-195Wallaahu A’lamu Bis Showaab

sumber : FB Kyai Zainuri Ahmad Zain



Fri, 7 Aug 2015, 9:29 pm


Berkenalan dengan Yii Framework dan Instalasi nya

1.1 Apa itu Yii?Yii merupakan  salah  satu dari  sederetan PHP Framework  yang bersifat open  source. Berdasarkan situs resminya, Yii adalah Framework (kerangka kerja) PHP berbasis-komponen, berkinerja tinggi untuk pengembangan aplikasi web berskala besar.  
Yii  juga  menyediakan  reusability  maksimum  dalam  pemrograman  web  dan mampu  meningkatkan  kecepatan  pengembangan  secara  signifikan.  Nama  Yii (dieja  sebagai /i:/)  singkatan dari  "Yes  it  is!". Berikut merupakan  respon yang  paling tepat dan akurat untuk yang baru dengan Yii. Kemudian muncul pertanyaan berikut:  
  •       Apakah Yii cepat?
  •       Apakah Yii aman?
  •       Apakah Yii profesional?
  •       Apakah Yii cocok untuk projek saya berikutnya?
  •       Jawabannya adalah  Yes, it is!

1.2 Keunggulan YiiBeberapa beberapa keunggulan yang ditawarkan oleh Yii Framework, diantaranya: ·      Open SourceYii adalah PHP Framewrok yang bersifat open source, sehingga salah satu dampaknya yaitu dapat menggunakannya dengan tidak perlu membayar. ·      Menggunakan Konsep MVC Konsep MVC merupakan konsep modern  saat  ini dalam mengembangan  aplikasi yang memisahkan tampilan, logic program, dan model. ·      Mendukung AjaxYii juga mendukung Ajax, yang membuat website bekerja lebih cepat dengan tidak perlu me-refresh  halaman  dari  awal,  terutama  sangat  dibutuhkan  untuk  back  end atau halaman admin. ·      Fungsi yang otomatis (built-in) Didalam Yii  terdapat  fungsi  otomatis  siapa  pakai  yang  sangat  dibutuhkan  dalam pembuatan website,  seperti validasi data  input, Ajax validasi, paging, CRUD, dan lain-lain. ·      Terhubung otomastis dengan JQuery Jika  kita  bekerja  dengan  widgets  yang  ada  pada  Yii,  maka  kita  langsung  dapat menggunakan fitur jQuery seperti Datepicker, CgridView, dan lain-lain.
1.3 Mengapa Menggunakan Yii? Berdasarkan  situs  resminya  www.yiiframework.com/performance.  Selain  cepat,  Yii adalah Framework berkinerja  tinggi. Berikut grafik menunjukkan  seberapa  efisien Yii bila dibandingkan dengan PHP Framework populer lainnya. Lihat gambar 1.1.Gambar 1.1 Grafik perbandingan PHP Framework
Dalam  grafik,  RPS  (Request  Per  Second)  atau   "Permintaan  Per  Detik"  yang menggambarkan  berapa  banyak  permintaan  aplikasi  yang  ditulis  dalam  Framework dapat memproses per detik. Pada gambar 1.1  terlihat bahwa Yii  jauh melebihi  semua Framework  lainnya  dalam  perbandingan  tersebut.  Keuntungan  kinerja  Yii  menjadi sangat  berarti  bila  ekstensi  APC  (Alternative  PHP  Cache)  banyak  digunakan  atau diaktifkan. Namun demikian  itu  terserah pada diri kita masing masing untuk menggunakan PHP Framework yang mana. iya kan?..
1.4 Memahami Alur MVC pada Yii Yii mengimplementasikan pola desain Model-View-Controller  (MVC) yang diadopsi secara  luas  dalam  pemrograman  web.  MVC  bertujuan  untuk  memisahkan  logika bisnis dari pertimbangan antarmuka pengguna agar para pengembang bisa lebih mudah mengubah setiap bagian tanpa mempengaruhi yang lain.  Dalam  MVC,  Model  menggambarkan  informasi  (data)  dan  aturan  bisnis.  View (tampilan) berisi elemen antarmuka pengguna seperti teks, input form. Dan Controller mengatur komunikasi antara Model dan View (jembatan antara Model dan View). Selain  implementasi MVC,  Yii  juga  memperkenalkan  front-controller  yang  disebut dengan Aplikasi,  yang meng-enkapsulasi  konteks  eksekusi  untuk memproses  sebuah request.  Aplikasi  mengumpulkan  beberapa  informasi  mengenai  request  pengguna, kemudian mengirimnya ke Controller yang sesuai untuk penanganan selanjutnya. Berikut diagram yang memperlihatkan struktur statis sebuah Aplikasi Yii. Lihat gambar 1.2.  Struktur Statis Aplikasi YiiGambar 1.2 Struktur Statis Aplikasi Yii
1.5 Alur Kerja Umum Diagram  berikut  menjelaskan  alur  kerja  umum  dari  sebuah  aplikasi  Yii  ketika menangani permintaan pengguna. Lihat gambar 1.3Gambar 1.3 Alur kerja umum Aplikasi YiiKeterangan Gambar 1.3: 1.  Pengguna melakukan permintaan  URL http://www.example.com/index.php?r=post dan  serverweb  menangani  permintaan  dengan  menjalankan  skrip  bootstrap index.php. 2.       Skrip bootstrap membuat sebuah instance Aplikasi dan menjalankannya.3.   Aplikasi  mendapatkan  rincian  informasi  permintaan  pengguna  dari  komponen aplikasi bernama request. 4.   Aplikasi menentukan controller dan aksi yang diminta dengan bantuan komponen aplikasi  bernama  urlManager.  Dalam  contoh  ini,  controller  adalah  post  yang merujuk  pada  kelas  PostController;  dan  aksi  adalah  show  yang  arti  sebenarnya ditentukan oleh controller. 5.       Aplikasi membuat  instance  controller  yang  diminta  untuk  selanjutnya menangani permintaan  pengguna.  Controller  menentukan  aksi  show  merujuk  pada  sebuah metode  bernama  actionShow  dalam  kelas  controller.  Kemudian  membuat  dan menjalankan filter (contoh kontrol akses, pengukuran) terkait dengan aksi ini. Aksi dijalankan jika diijinkan oleh filter. 6.        Aksi membaca Post model di mana ID adalah 1 dari database. 7.        Aksi meyiapkan view (tampilan) bernama show dengan model Post. 8.        View membaca dan menampilkan atribut model Post. 9.        View menjalankan beberapa widget. 10.    View menyiapkan hasil yang dipasangkan dalam layout (tata letak). 11.    Aksi mengakhiri pembuatan view dan menampilkan hasil akhir kepada pengguna.
1.6 Instalasi Yii Setelah  Anda  menginstall  paket  PHP  seperti  Xampp,  Appserve,  Wamp  atau  yang lainnya,  barulah Anda menginstal Yii. Namun  sebelum melakukan  instalasi Yii,  kita perlu mengecek versi PHP yang kita gunakan. Karena Yii mendukung PHP 5.1.0 atau yang lebih tinggi dan tidak mendukung PHP 4. Adapun cara mengecek versi PHP yang kita gunakan, buka browser,  lalu ketikan url http://localhost/xampp/phpinfo.php, maka akan tampil informasi PHP Version. Lihat gambar 1.4.Gambar 1.4 Cek versi PHP
Selanjutnya, kita harus melakukan konfigurasi Environment Variables, karena nanti instalasi Yii membutuhkan perintah Yiic melalui Command Prompt. Caranya, buka Windows  Explorer,  lalu  klik  kanan  pada  Computer  dan  pilih  Properties.  Lihat gambar 1.5.Gambar 1.5 Memilih Properties pada Computer

Maka  akan  tampil  jendela  System,  lalu  klik  Advanced  system  settings  untuk menampilkan  jendela  System  Properties.  Selanjutnya,  klik  tab  Advanced,  lalu  klik tombol Environment Variables. Lihat gambar 1.6.Gambar 1.6 System Properties

Maka  akan  tampil  jendel Environment Variables. Pada bagian System  variables,  cari dan pilih Path, lalu klik tombol Edit. Lihat gambar 1.7.Gambar 1.7 Environment Variables

Maka  akan  tampil  jendela Edit  Sytem Variable,  lalu  pada  bagian Variable  value  di akhir teks, tambahkan ;C:\xampp\php, kemudian klik tombol OK. Lihat gambar 1.8Gambar 1.8 Edit System Variable

Sisanya, tinggal klik tombol OK dan OK lagi.  Sekarang  saatnya  kita  menginstall  Yii  Framework.  Silahkan  Anda  download  Yii Framework versi terbaru di situs resminya www.yiiframework.com. Saat pembuatan tutorial ini, versi terbaru dari Yii adalah 1.1.10.Copy  file  yang  bernama  yii-1.1.10.r3566.tar.gz  ke  C:\xampp\htdocs\,  kemudian ekstrak  file  tersebut,  sehingga  menghasilkan  folder  dengan  nama  yii-1.1.10.r3566. Untuk memudahkan penamaan, ubah nama foldernya menjadi yiinazuma.  Selanjutnya,  buka  Command  Prompt  melalui  Desktop  Windows  dengan  mengklik Start > All Programs > Accessories > Command Prompt. Lihat gambar 1.9Gambar 1.9 Jendela Command Prompt

Pada  jendela  Command  Prompt,  ketikkan  cd\xampp\htdocs\yiinazuma\framework, lalu tekan tombol Enter di keyboard (lihat lagi gambar 1.0). Kemudian ketikkan lagi Yiic webapp C:\xampp\htdocs\yiinazuma, lalu tekan tombol Enter  di  keyboard  (lihat  lagi  gambar  1.9),  maka  akan  tampil  pertanyaan  apakah aplikasi  web  akan  diletakkan  di  C:\xampp\htdocs\yiinazuma.  Jawab  yes  dengan mengetikkan  y,  lalu  tekan  tombol  Enter  di  keyboard,  maka  proses  instalasi  akan berlangsung selama 5 detik. Apabila instalasi Yii berhasil akan tampil informasi “Your application has been created successfully ...” seperti pada gambar 1.10.
Gambar 1.10 Proses instalasi Yii sudah berhasil

Untuk menguji hasil  instalasinya, buka browser, ketikkan   http://localhost/yiinazuma/. Apabila proses  instalasi benar, maka akan  tampil halaman ucapan selamat datang dari Yii seperti pada gambar 1.11.Gambar 1.11 Halaman Selamat Datang dari Yii
1.7 Cek kebutuhan Sistem untuk Yii Untuk memastikan kebutuhan sistem dalam menggunakan Yii, apakah sudah terpenuhi atau belum, bisa di cek melalui http://localhost/yiiinazuma/requirements/,  lalu akan tampil seperti pada gambar 1.12.Gambar 1.12 Cek kebutuhan sistem untuk Yii
Pada gambar 1.12, perhatikan pada bagian kolom Result yang menunjukkan hasil dari kebutuhan  sistem,  apakah  sudah  terpenuhi atau belum? Apabila Passed berarti  sudah terpenuhi.
sumber : Berkenalan dengan Yii Framework.pdf


Mon, 1 Sep 2014, 1:57 pm


Cara Setting LCD Proyektor Komputer Windows 7 dengan Cepat dan Mudah

Pada saat kita presentasi menggunakan proyektor misalnya pada saat pembelajaran di kuliah atau kegiatan lain terkait dengan proyektor, tentunya kita harus men-setting layar agar tampak pada proyektor secara maksimal. Pada laptop atau notebook, tombol cepat untuk setting proyektor tersebut sudah ada sebagai tombol bawaan, biasanya ada di deretan f1, f2, f3, f4 - f12, umumnya pada f4 tombol keyboard, gambarnya biasanya mirip layar monitor kecil. Namun bagaimana cara cepat setting Proyektor LCD untuk komputer lama pada windows 7? disini akan disampaikan Cara Setting LCD Proyektor Komputer Windows 7 dengan Cepat dan Mudah, yaitu sebagai berikut :
1. Tekan Tombol Windows+Ppada keyboard. (Windows = tombol bendera windows sebelah Alt kiri)


Keterangan :Computer only = Ini berarti hanya tampil di komputer dan tidak tampil di proyektor. Duplicate = Ini berarti bahwa akan tampil di komputer dan juga di proyektor (tampilan pada proyektor merupakan duplikasi dari tampilan pada komputer). Extend = Ini berarti bahwa akan tampil di komputer dan juga di proyektor (namun terdapat 2 layar pada tampilan di komputer, ada bagian (layar) untuk ditampilkan ke proyektor, dan layar satu-nya lagi yang tidak ditampilkan pada proyektor). Projector only = Ini berarti hanya tampil di proyektor dan tidak tampil di komputer.
2. Untuk kasus presentasi pada proses pembelajaran bisa digunakan yang mode Extend (tergantung kebutuhan anda tentunya, bisa disesuaikan).
Selesai, sudah begitu saja.. semoga bermanfaat :)


Sun, 31 Aug 2014, 7:35 pm


Kekurangan Pak Mahfud MD


Kekurangan Pak Mahfud MD :

Pak Mahfud MD tidak ganteng. Wajahnya ndeso ga kayak bintang film atau kayak Gita wiryawan

Pak Mahfud MD tidak punya duit dan tdk mau dibantu duit haram. Tidak mau dibantu duit yg mengharuskan dia kompromi dgn para penjahat negeri

Pak Mahfud MD tidak bisa bicara manis. Dia omong apa adanya. Satu kata dengan perbuatan. Bukan pembohong dan tdk pandai berbohong

Kekurangan Pak Mahfud MD: beliau dibenci oleh para koruptor, para pejabat busuk, para mafia hukum. Musuhnya banyak dan semuanya adalah penjahat

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah ga ngerti pencitraan. Tdk pandai berpura. Bahkan yang benar2 prestasinya yg luar biasa saja ga pernah diungkap

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah tidak bisa basa basi. Khas Madura sejati, Wong temannya antar kurma saja dia kirain gratifikasi hehe

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah dia tak suka bicarakan prestasinya. Padahal mahasiswa hukum mana yg tak pernah baca buku2 karyanya ?

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah sulit diajak kompromi. Salah ya salah, benar ya benar. Titik ga pake koma. Jgn coba2 nego sama dia, diusir !

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah keunikannya. Dia bukan Jawa tapi perilakunya halus seperti jawa. Bukan batak, tapi ketegasannya tdk bs ditolak

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah keikhlasannya memilih jadi pejabat miskin yang membuatnya menjadi pejabat terkaya dunia akhirat

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah dia pemimpin sekaligus pelayan. Dia pemimpin lembaga negara juga imam shalat. Dia selaraskan dunia akhirat

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah dia tdk mau jd hamba, jadi budak atau kacung konspirasi global. Ga mau ngemis2 ke AS atau Israel, apalagi China

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah tidak ada konglomerat busuk yg mau berteman dgn nya apalagi beri bantuan dana. Percuma, ga bakal diterimanya

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah ketidakpopulerannya. Ketidaktenarannya. Coba jika ada, siapa saja yg baca sejarahnya hidupnya..tunduk kepala

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah kesederhanaannya di atas semua jabatan tingginya. Kerendahaan hatinya di atas semua prestasinya…

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah karena gaya dan sikapnya yang nothing to lose, ga peduli. Siapa yg salah, dia tegur. Berkali2 Pak SBY dia koreksi

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah Kekurangan kita semua, yang tdk pernah mau mengenalnya.

Kekurangan Pak Mahfud MD adalah Kekurangan kita yang akan merugi jika tidak dipimpinnya

sumber : ...


Wed, 23 Apr 2014, 7:32 am


Presiden dan Agama


Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
Beberapa tahun yang lalu saya berada dalam sebuah seminar di Universitas Monash, Australia. Pokok pembicaraannya adalah "Perkembangan Politik di Indonesia". Ada pertanyaan dari peserta: "Mungkinkah seorang yang tidak beragama Islam menjadi presiden di Indonesia?" Penulis menjawab, kalau dilihat dari bunyi Undang-Undang Dasar '45 hal itu dapat saja terjadi.

Jawaban ini menimbulkan berbagai macam reaksi. Karena jawaban ini, ada yang menuduh penulis telah berkoalisi dengan Benny Moerdani dan mencalonkannya sebagai Presiden RI. Lebih dari itu bahkan ada yang menuduh penulis sebagai antek orang-orang non-Muslim. Sementara di sisi lain, mereka yang tulus pada UUD '45 melihat jawaban ini sebagai hal biasa.

Sebagaimana tertulis dalam UUD '45 yang memungkinkan adanya seorang non-Muslim menjadi presiden di belakang hari, karena Undang-Undang Dasar kita memang tidak pernah mempersoalkan agama seorang calon presiden. Sama halnya dengan Presiden John F Kennedy dari Amerika Serikat yang tidak beragama mayoritas di Amerika Serikat yaitu agama Kristen Protestan. Atau sebagaimana suara beberapa waktu yang lalu agar Colin Powell yang berkulit hitam itu menjadi presiden dari bangsa yang mayoritas berkulit putih. Dalam hal ini berlaku kenyataan, yang terpenting adalah bunyi undang-undangnya bukan sentimen yang terkandung dalam undang-undang itu.

Bagaimana halnya dengan negara kita? Jelas terjadi kemauan berbeda ketika membuat UUD '45. Dalam sejarahnya ada yang menginginkan UUD '45 berdasarkan agama, ada juga yang ingin mendirikan negara sekuler. Yang belakangan ini lebih sesuai dengan kenyataan, karena sebagian penduduk Indonesia hanya Islam dalam namanya saja. Mereka dilahirkan, dikhitan, dikawinkan dan dimakamkan dengan cara Islam. Selebihnya mereka tidak tahu apa-apa tentang Islam.

Walaupun demikian, mereka tidak mau disebut Islamnya kurang dari orang-orang yang sering pergi ke masjid, atau yang mengalami pendidikan agama (secara formal) lebih banyak. Mereka juga sama-sama merasakan keislaman yang intens, seperti halnya orang-orang yang memperoleh pendidikanagama cukup dan menjalankan syariah formal keislaman.

Buktinya, mereka akan marah kalau dianggap sebagai bukan Muslim dan perasaan mereka akan tersinggung jika Islam disinggung dan dilecehkan. Jangan dikira ribuan orang yang mati mempertahankan keberadaan agama Islam di Indonesia adalah mereka yang mengerti sepenuhnya arti agama tersebut dalam kehidupan. Mereka bahkan rela mengorbankan jiwa untuk sesuatu yang tidak mereka mengerti, melainkan hanya mempertahankan nama belaka.

Hal seperti ini juga terjadi di Irlandia, di mana orang-orang Katolik melakukan teror terhadap orang-orang Protestan, hanya karena sejarah yang mengarahkan mereka demikian. Bahkan dapat dipastikan orang Katolik saleh yang pergi ke gereja tiap Minggu tidak akan melakukan hal itu. Agama bagi mereka tidak identik dengan kekerasan.

***
DI sinilah letak penting dari hubungan antara agama dan negara. Mungkinkah agama memotivasikan orang untuk menampilkan kekerasan guna memperjuangkan cita-cita? Jawabnya mungkin saja. Orang-orang seperti SM Kartosuwirjo dapat berbuat demikian. Baginya, tidak penting mayoritas bangsa dapat menerima pikiran-pikirannya atau tidak, yang penting instrumen negara berada di tangan, dan dengan demikian secara
formal pejabat-pejabat negara berada di tangan, dan dengan demikian secara formal para pejabat negara berada di tangan orang-orang yang berasal dari agama Islam.

Ini yang membedakan dari Amerika Serikat maupun Indonesia yang berdasar UUD '45. Terlepas dari kemungkinan hal itu dapat terjadi secara historis atau tidak. Dengan menggunakan kata lain, di negeri kita atau di AS setiap orang dapat menjadi presiden. Dia dapat saja menunjuk menteri-menteri dari agama mana pun yang dikehendakinya. Inilah sebabnya di negeri kita selamanya ada menteri yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan sebagainya.

Hal ini terjadi karena undang-undang yang ada memungkinkan hal itu, di samping itu juga untuk menampung jumlah mereka yang besar ataupun mengingat peranan kesejarahan mereka dalam membentuk negara bangsa Indonesia. Ini artinya kaum agama lain tidak tertinggal dalam perang merebut kemerdekaan. Dengan demikian mempertentangkan antara agama seseorang dengan suatu jabatan tertentu, lebih-lebih jabatan kepresidenan merupakan sesuatu hal yang naif, karena di samping bertentangan dengan Undang-Undang Dasar juga dapat melukai hati rakyat.

Sejarah telah memberikan corak yang lain terhadap kemerdekaan kita, yang harus dihormati oleh bangsa kita yang ingin maju. Kalau pikiran ini diterus-teruskan bukan tidak mungkin kita juga akan memberikan kedudukan kunci seperti Mendagri atau Menteri Keuangan kepada golongan minoritas seperti yang telah terjadi di Indonesia. Bukankah hal seperti ini telah terjadi di negeri Irak dengan Menteri Luar Negeri Thareq Azis yang beragama Kristen dan sekarang menjadi perdana menteri?

Berbagai kemungkinan ini yang terbayang di mata kita ketika membandingkan UUD '45 dengan UUD Irak. Ketika para pemimpin gerakan Islam seperti A Wahid Hasyim, menyetujui UUD '45 terlepas dari janji-janji lisan yang merupakan konvensi dan konsensus nasional, yang jelas redaksi UUD '45 memungkinkan munculnya aspirasi-aspirasi nonkeagamaan dalam perkembangan UUD itu sendiri. Ini kalau persoalannya kita serahkan kepada para ahli hukum yang berkecimpung dalam Mahkamah Agung.

***
INILAH yang membuat mengapa saya sebagai Ketua Umum PBNU memberikan jawaban sesuai dengan bunyi UUD '45 dalam seminar di Monash tersebut, saya memandang jauh ke depan dan tidak mau terikat dengan konvensi maupun janji-janji lisan. Bagi saya yang terpenting adalah kenyataan tertulis yang pada hakikatnya merupakan cermin dari komitmen bersama yang telah disepakati. Praktiskah saya, atau seorang yang berkhianat dari konvensi dan janji-janji lisan? Saya tidak ambil pusing karena bagaimanapun juga kita harus berpegang pada produk tertulis dalam kehidupan bernegara. Konvensi dan janji-janji lisan hampir tidak punya arti bagi pengendali organisasi yang tiap tindakannya memiliki akibat jauh ke depan.

Inilah yang menjadi dasar jawaban penulis atas berbagai tanggapan dan asumsi masyarakat mengenai jawaban saya yang memperbolehkan seorang non-Muslim menjadi presiden di negeri ini. Ungkapan di atas memang berasal dari penulis dan disadari sepenuhnya ketika diucapkan. Dengan kata lain ucapan itu harus diterima sebagaimana adanya. Upaya untuk menguranginya adalah sesuatu yang mengandung kepicikan pandangan yang tidak lain dalam jangka panjang akan menimbulkan kesulitan-kesulitan.

Inilah suka duka kita sebagai bangsa. Daripada kita berdebat tentang tafsir suatu undang-undang demi memperjuangkan kepentingan sendiri, akan lebih baik kalau kita berlatih mendisiplinkan diri untuk taat pada undang-undang itu. Sebagaimana yang terjadi di negara-negara maju. Di negara maju ini masyarakat mencoba konsisten dan mendisiplinkan diri pada peraturan perundang-undangan.

Alangkah naifnya jika kita masih terus sibuk merekayasa sebuah undang-undang dengan dalih demi menegakkan undang-undang, padahal yang sebenarnya hanya sekadar menyembunyikan kepentingan politik suatu golongan tertentu. Hingga akhirnya timbul banyak kerancuan; ungkapan yang benar dianggap salah tafsir, sedangkan yang sebaliknya dianggap kebenaran.

Pada kecenderungan ini pun dapat ditambahkan upaya untuk menyalahartikan ucapan yang tidak dimaksudkan oleh pengucapnya, melainkan oleh penafsirnya dianggap sebagai kesalahan ucap. Ketika penulis menyampaikan bahwa ada menteri Kabinet Reformasi yang terlibat dalam pembunuhan "tukang santet" di Jawa Timur banyak yang beranggapan bahwa ini salah tafsir. Padahal hal ini penulis sampaikan karena adanya beberapa laporan dari bawah. Tetapi ini tidaklah penting, karena sejarah akan membuktikan sendiri.

Untuk kembali pada pokok persoalan, yang penting adalah adanya teks tertulis dari undang-undang yang harus dipegang bersama. Warga negara tidak boleh menggunakan tafsiran berdasarkan apa yang mereka ingat, melainkan berdasarkan apa yang mereka baca. Ini penting sekali untuk memberikan penjelasan kepada teks undang-undang dasar. Sebuah sikap yang berbeda akan mengaburkan perbedaan pandangan jika tanpa didasari pada suatu yang jelas.

Kenyataan di atas inilah yang harus kita pegang, jangan sampai kita mengulangi hal yang sama, dilihat dari segala sudut gerakan Islam formalis berada pada posisi lemah. Baik keuangan, administratif maupun yang lainnya. Di samping itu mayoritas kehendak umat Islam yang cenderung kultural, tidak memandang formalisme Islam. Mereka justru lebih tertarik pada isu-isu kemanusiaan, demokratisasi, pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi rakyat. Dengan demikian formalisme Islam akan mendapat tantangan yang serius bahkan dari kalangan Islam sendiri. Inilah yang perlu kita renungkan lebih jauh dalam kehidupan berbangsa kita saat ini.

KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU, pengamat sosial-politik

Harian KOMPAS Sabtu, 21 November 1998

sumber : file Gus Dur


Wed, 16 Apr 2014, 3:20 am


Lirik Syi’ir Tanpo Waton (Terjemahan Basa Sunda)
LirikSyi’ir Tanpo Waton (Syi'ir Gus Dur)




Oleh : KH Moh. Nizam As-Shofa

ا ستغفرالله رب البرايا # استغفرالله من الخطايا
رب زدني علما نافعا # و وفقني عملا صالحا
يا رسول الله سلام عليك # يارفيع الشان و الدرج
عطفـة ياجيرة العالم # يااهيل الجود و الكرم

Astaghfirulloh...Robbal baroyaa....
Astaghfirulloh...Minal Khothoya....
Robbi zidni..'ilmannafii'aa...
Wawaffiqni...'Amalaan sholiha....

Ya roshulalloh..salam mun'alaik...
Ya rofi'asyaaniwaddaarojii....
'Athfatayyajii rotal'alaami...
Ya Uuhailaljudiwalkaromi.....2X

Ngawiti ingsun nglaras syi'iran # Kelawan muji maring pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan # Rino wengine tanpo pitungan >>
Ngawitan abdi maos syi’iran # Kalawan muji gusti Pangeran
Dzat nu maparin Rahmat kanikmatan # siang jeung weungi teu itung-itungan
----
Duh bolo konco priyo wanito # Ojo mung ngaji syare'at bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco # Tembe mburine bakal sangsoro >>
Duh parakanca isteri pameget # ulah mung ngaji syare'at wungkul
Ngan pinter dongeng, nulis jeung maca # akhirna ukur meunang sangsara
----
Akeh kang apal Qur'an Haditse # Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke # Yen isih kotor ati akale >>
Loba nu apal Qur’an jeung Hadits # resep ngafirkeun jalma lianna
Kafir sorangan teu dipalire # mun masih kotor hate jeung akalna
----
Gampang kabujuk nafsu angkoro # Ing pepaese gebyare donyo
Iri lan meri sugihe tonggo # Mulo atine peteng lan nisto >>
Gampang ka goda nafsu angkara # dina papaes silona dunya
Sirik jeung pidik ku beungharna tatangga # matak hatena poek jeung nista
---
Ayo sedulur jo nglaleake # Wajibe ngaji sa'pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide # Baguse sangu mulyo matine >>
Yu dulur-dulur tong mopohokeun # wajibna ngaji jeung aturanana
Pikeun ngandelan iman tauhidna # hadean bekel, mulya maotna
---
Kang aran sholeh bagus atine # Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma'rifate # Ugo haqiqot manjing rasane >>
Jalma nu sholeh hade hatena # lantaran jero kaelmuanana
Laku tarekat jeung ma’rifatna # oge hakekat manjing rasana
---
Al-Qur'an Qodim wahyu minulyo # Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangan guru waskito # Den tancepake ing jero dodo >>
Al-Qur’an Qodim wahyu nu mulya # heunteu di tulis bisa di baca
Eta piwuruk guru waskita # Nu ditanceubkeun dina jero dada
---
Kumantil ati lan pikiran # Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu'jizat rosul dadi pedoman # Minongko dalan manjinge iman >>
Gumantel hate reujeung pikiran # ngarasuk kana sakabeh badan
Mu’jizat Rosul jadi pedoman # minangka jalan asupna iman
---
Kelawan Alloh kang moho suci # Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadlohi # Dzikir lan suluk jo nganti lali >>
Kalawan Alloh nu Maha Suci # kudu masrahkeun siang jeung wengi
Ditirakatan diriyadhohan # dzikir jeung suluk tong dipohokeun
----
Uripe ayem rumongso aman # Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo nadjan pas-pasan # Kabeh tinakdir saking pengeran >>
Hirupna tengtrem ngarasa aman # eta teh tanda jalma nu Iman
Sabar narima najan pas-pasan # kabeh ge takdir kersaning pangeran
---
Kelawan konco dulur lan tonggo # Kang podo rukun ojo dursilo
Iku sunnahe rosul kang mulyo # Nabi Muhammad panutan kito >>
Ka dulur, batur reujeung tatangga # kudu rarukun ulah pasea
Eta sunnahna Rosul nu mulya # Nabi Muhammad panutan urang
---
Ayo nglakoni sekabehane # Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senadjan asor toto dzohire # Ananging mulyo maqom drajate >>
Yu ngalakonan kabehanana # Alloh nu bakal ngangkat darajatna
Sanajan handap kaayaanana # tapi mulia maqom darajatna
---
Lamun palastro ing pungkasane # Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh swargo manggone # Utuh mayite ugo ulese >>
Mung timang mangsa dina ahirna # henteu kasasar roh jeung sukmana
Kanyaah Alloh surga tempatna # weuteuh mayitna oge kafanna

Ya roshulalloh..salam mun'alaik...
Ya rofi'asyaaniwaddaarojii....
'Athfatayyajii rotal'alaami...
Ya Uuhailaljudiwalkaromi.....2X

Alfaatihah .....
-------------------------------------------

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia :

Aku memulai menembangkan (menyanyikan) sya’ir # Dengan memuji kepada Tuhan
Yang memberi rahmat dan kenikmatan # Siang dan malam tanpa perhitungan

Wahai para sahabat pria dan wanita # jangan hanya belajar syari’at saja
Hanya pandai mendongeng (bicara),menulis dan membaca # Akhirnya hanya akan sengsara

Banyak yang hafal al-Qur’an dan hadistnya # Suka mengkafirkan orang lain
Kekafirannya sendiri tidak diperhatikan # Kalau masih kotor hati dan akalnya

Mudah tertipu nafsu angkara # Dalam hiasan gemerlapnya dunia
Iri dan dengki kekayaan tetangga # Maka hatinya gelap dan nista

Mari saudara jangan melupakan # Kewajiban mengaji (belajar) lengkap dengan aturannya
Untuk menebalkan iman tauhidnya # Bagusnya bekal mulia matinya

Yang disebut orang shaleh itu bagus hatinya # Karena sempurna seri keilmuannya
Melakukan thariqat dan ma’rifatnya # Juga hakekat meresap rasanya

Al-qur’an qodhim wahyu yang mulia # Tanpa ditulis bisa dibaca
Itu wejangan (pesan) guru yang waskita # Ditancapkan ke dalam dada

tergantung (tertempel) di hati dan pikiran # Merasuk ke dalam badan dan tubuh
Mu’jizat rasul ( Al-qur’an ) jadi pedoman # Sebagai jalan masuknya iman

Kepada Allah yang Maha suci # Harus berpelukan (mendekatkan diri) siang dan malam
Diusahakan dan dilatih # Dzikir dan suluk jangan sampai dilupakan

Hidupnya tentram dan merasa aman # Itulah perasaan tanda beriman
Sabar menerima meskipun (hidup) pas-pasan # Semua sudah ditakdirkan dari Tuhan

Terhadap teman , saudara dan tetangga # Rukunlah jangan bertengkar
Itu sunnah Rasul yang mulia # Nabi Muhammad suri tauladan kita

Mari jalani semuanya # Allah yang akan mengangkat derajatnya
Meskipun rendah secara lahiriah # Namun mulia kedudukan derajatnya disisi Allah

Ketika ajal telah datang di Akhir # Tidak tersesat roh dan sukma(raga)nya
Disanjung Allah surga tempatnya # Utuh (lengkap) jasadnya juga kain kafannya

------------------------------------------------------------------------------

Hadanallah Waiyakum Waafwaminkum
Wassalamu'alaikum Warrahmatullohi Wabarokaatuh

sumber : Qasidah Burdah

Mon, 24 Mar 2014, 8:35 pm


Menunda: Menggali Kubur
Oleh : Alissa Wahid


Procrastination is the grave in which you bury your dreams. Menunda itu seperti menggali kubur untuk segala yang kita impikan.

Demikian kata orang bijak, menunjukkan betapa berbahayanya perilaku menunda-nunda itu. Namun tampaknya justru semakin lama semakin banyak manusia modern yang terjebak dalam kebiasaan ini.  Ujung-ujungnya, tugas dan tanggungjawab diselesaikan di beberapa waktu terakhir. Last Few Minuters, istilah keren untuk orang-orang yang punya kebiasaan tak keren ini.

Lucunya, walaupun sudah sadar bahwa ini adalah kebiasaan yang tidak menguntungkan, mematikan potensi, dan memunculkan masalah di kemudian hari, tetap saja banyak orang mengalami kesulitan untuk menghilangkannya. Mengapa ya?

Kurang Sibuk,  Terlalu Sibuk

Kedua jenis sibuk ini ternyata juga sama-sama bisa menjadi sumber procrastination.

Adi memutuskan untuk mundur dari kantor. Selama ini ia menerima order desain grafis, dikerjakan di luar jam kantor. Akibatnya ia kewalahan dan kecapekan. Menghitung income yang dihasilkan, ia memutuskan untuk bekerja freelance, dengan asumsi ia akan lebih produktif. Tetapi, alih-alih lebih cepat menyelesaikan pekerjaan, Adi justru menunda-nunda. Yang biasanya selesai seminggu dikerjakan di sela-sela waktu kerja, tetap saja butuh seminggu.

Tidak adanya akuntabilitas waktu kepada pihak lain membuat Adi lebih santai. Ia merasa punya waktu lebih banyak. Karena itu ia menunda pekerjaannya.

Sheila juga seorang LFM. Ia sering merasa tak puas karena banyak hal tak terselesaikan dengan optimal. Ini akibat ia menunda menyelesaikan tugas-tugasnya. Tapi ia merasa tak berdaya, karena begitu banyak hal yang harus dihadapinya.

Kasus Sheila berangkat dari ketidakmampuannya untuk mengelola prioritas, bukan waktu. Para psikolog menyebut ini sebagai penyakit orang modern: mengambil terlalu banyak hal dan berusaha menyelesaikan segalanya dalam satu waktu. Padahal, tidak semua yang diambil itu termasuk dalam prioritas kehidupannya. Akibatnya waktu yang 24 jam terasa kurang. Pekerjaan pun menumpuk, dan Sheila menghabiskan waktu hanya menyelesaikan yang penting dan genting.

The Power of Kepepet

Serahkan satu tugas kepada staf, dan beri waktu satu bulan untuk menyelesaikannya; maka di akhir satu bulan ia akan menyerahkan tugas tersebut. Menariknya, serahkan tugas yang sama, berikan waktu dua minggu untuk menyelesaikannya, maka ia pun akan menyelesaikan tugas tersebut dalam kurun dua minggu tersebut.

Pengalaman masa lalu menunjukkan kepada kita bahwa sebagian besar hal bisa diselesaikan dalam waktu mepet. Otak kita menyimpan informasi ini, dan menolak menjalankan diri sebelum masuk ke periode kepepet. Inilah yang seringkali secara tidak disadari menyebabkan orang menunda menyelesaikan tugasnya.

Saya teringat ucapan Ronny Furqony, seorang ahli Neuro Linguistic Programming di Indonesia, “orang sukses biasanya mampu memanfaatkan prinsip the Power of Kepepet itu dengan cara memepetkan dirinya terhadap target dan jadwal, sehingga mereka mendapatkan hasil yang optimal.”

Menundukkan Diri

Musuh terbesar kita adalah diri sendiri. Untuk menundukkan diri yang suka menunda ini, Tiki Kustenmacher dalam buku How to Simplify Your Life (2004) membagikan tipsnya:
  1. Hindari kata “Saya Harus” karena ini menciptakan tekanan tersendiri pada otak. Hasilnya? Untuk menghindari ketidaknyamanan ini, kita menunda. Gantilah dengan kata “Saya akan” atau “Saya bisa.”
  2. Fokus pada langkah pertama. Seperti kata pepatah, perjalanan seribu mil ditempuh selangkah demi selangkah.  Fokus pada aksi, bukan pada hasil yang diharapkan membuat otak menerima tugas dengan lebih ringan dan tidak menakutkan.
  3. Hindari sempurna . Lihat sekitar kita. Mereka yang produktif biasanya tak melakukan segalanya dengan sempurna. Mereka yang obsesif dengan kesempurnaan biasanya hanya sibuk berencana.
  4. Play more. Dalam kondisi tertekan waktu, sangatlah penting untuk berhenti sejenak. Percayalah, saat beristirahat, otak kita akan kembali segar dan menemukan ide-ide kreatif.
  5. Hadapi rasa cemas. Sekali waktu berpikirlah apa hal terburuk yang mungkin terjadi. Seringkali, kita menemukan bahwa apa yang kita cemaskan tidak seburuk apa yang akan terjadi.
Tentu saja, semua tips di atas perlu berangkat dari pondasi prioritas hidup kita. Memahami apa saja yang penting dalam hidup kita akan membantu kita untuk fokus dan tidak tergoda oleh tawaran dan kesempatan yang bersliweran di sekitar kita. Dengan tujuan yang jelas, procrastination  tak akan lagi menjadi momok.

sumber : alissawahid.wordpress.com


Mon, 24 Mar 2014, 2:30 am


Islam dan Politik
Oleh: KH MA Sahal Mahfudh



Islam sebagai agama samawi yang komponen dasarnya 'aqidah dan syari'ah, punya korelasi erat dengan politik dalam arti yang luas. Sebagai sumber motivasi masyarakat, Islam berperan penting menumbuhkan sikap dan perilaku sosial politik. Implementasinya kemudian diatur dalam syari'at, sebagai katalog-lengkap dari perintah dan larangan Allah, pembimbing manusia dan pengatur lalu lintas aspek-aspek kehidupan manusia yang kompleks.

Islam dan politik mempunyai titik singgung erat, bila keduanya dipahami sebagai sarana menata kebutuhan hidup rnanusia secara menyeluruh. Islam tidak hanya dijadikan kedok untuk mencapai kepercayaan dan pengaruh dari masyarakat semata. Politik juga tidak hanya dipahami sekadar sebagai sarana menduduki posisi dan otoritas formal dalam struktur kekuasaan.

Politik yang hanya dipahami sebagai perjuangan mencapai kekuasaan atau pemerintahan, hanya akan mengaburkan maknanya secara luas dan menutup kontribusi Islam terhadap politik secara umum. Sering dilupakan bahwa Islam dapat menjadi sumber inspirasi kultural dan politik. Pemahaman terhadap term politik secara luas, akan memperjelas korelasinya dengan Islam.

Dalam konteks Indonesia, korelasi Islam dan politik juga menjadi jelas dalam penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Ini bukan berarti menghapus cita-cita Islam dan melenyapkan unsur Islam dalam percaturan politik di Tanah Air. Sejauh mana unsur Islam mampu memberikan inspirasi dalam percaturan politik, bergantung pada sejauh mana kalangan muslimin mampu tampil dengan gaya baru yang dapat mengembangkan kekayaan pengetahuan sosial dan politik untuk memetakan dan menganalisis transformasi sosial.

***

Syari'ah Islam mencakup juga tatanan mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehidupan berbangsa, misalnya tergambar dalam tatanan syari'at tentang berkomunitas (mu’asyarah) antar sesama manusia. Sedangkan mengenai kehidupan bernegara, banyak disinggung dalam ajaran fiqih siyasah dan sejarah Khilafah al-Rasyidah, misalnya dalam kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah karya al-Mawardi atau Abi Ya’la al-Hanbali.

Pada zaman Rasulullah dan Khulafa' al-Rasyidin dapat dipastikan, beliau-beliau itu di samping pimpinan agama sekaligus juga pimpinan negara. Konsep imamah yang mempunyai fungsi ganda—memelihara agama sekaligus mengatur dunia—dengan sasaran pencapaian kemaslahatan umum, menunjukkan betapa eratnya interaksi antara Islam dan politik. Tentu saja dalam hal ini politik dimengerti secara mendasar, meliputi serangkaian hubungan aktif antar masyarakat sipil dan dengan lembaga kekuasann.

Dalam teori politik sekuler, agama tidak dipandang sebagai kekuatan. Agama hanya dilihat sebagai sesuatu yang berkaitan dengan persoalan individual. Padahal secara fungsional, ternyata kekuatan agama dan politik saling mempengaruhi. Memang dalam arti sempit ada diferensiasi, misalnya seperti diisyaratkan oleh interpretasi sahabat Ibnu Mas'ud terhadap ungkapan uli al-amr sebagai umara’ (pemimpin formal pemerintahan), yang dibedakan dengan ulama sebagai pemimpin agama.

Pengertian politik (al-siyasah) dalam fiqih Islam menurut ulama Hanbali, adalah sikap, perilaku dan kebijakan kemasyarakatan yang mendekatkan pada kemaslahatan, sekaligus menjauhkan dari kemafsadahan, rneskipun belum pernah ditentukan oleh Rasulullah SAW. Ulama Hanafiyah memberikan pengertian lain, yaitu mendorong kemaslahatan makhluk dengan rnemberikan petunjuk dan jalan yang menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Bagi para Nabi terhadap kaumnya, menurut pendapat ini, tugas itu meliputi keselamatan batin dan lahir. Bagi para ulama pewaris Nabi, tugas itu hanya meliputi urusan lahiriyah saja.

Sedangkan menurut ulama Syafi'iyah mengatakan, politik harus sesuai dengan syari'at Islam, yaitu setiap upaya, sikap dan kebijakan untuk mencapai tujuan umum prinsip syari'at. Tujuan itu ialah: (1) Memelihara, mengembangkan dan mengamalkan agama Islam. (2) Memelihara rasio dan mengembangkan cakrawalanya untuk kepentingan ummat. (3) Memelihara jiwa raga dari bahaya dan memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang primer, sekunder mau pun suplementer. (4) Memelihara harta kekayaan dengan pengembangan usaha komoditasnya dan menggunakannya tanpa melampaui batas maksimal dan mengurangi batas minimal. (5) Memelihara keturunan dengan memenuhi kebutuhan fisik mau pun rohani.

Dari pengertian itu, Islam memahami politik bukan hanya soal yang berurusan dengan pemerintahan saja, terbatas pada politik struktural formal belaka, namun menyangkut juga kulturisasi politik secara luas. Politik bukan berarti perjuangan menduduki posisi eksekutif, legislatif mau pun yudikatif. Lebih dari itu, ia meliputi serangkaian kegiatan yang menyangkut kemaslahatan umat dalam kehidupan jasmani mau pun rohani, dalam hubungan kemasyarakatan secara umum dan hubungan masyarakat sipil dengan lembaga kekuasaan.

Bangunan politik semacam ini, harus didasarkan pada kaidah fiqih yang berbunyi, tasharruf al-imam manuthun bi al-mashlahah (kebijakan pemimpin harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat atau masyarakat). Ini berarti, bahwa kedudukan kelompok masyarakat sipil dan lembaga kekuasaan tidak mungkin berdiri sendiri.

***

Penyebaran Islam di Indonesia dapat disimak melalui pendekatan politik kultural dengan bantuan -atau sekurang-kurangnya toleransi- penguasa. Proses Islamisasi yang relatif cepat di Indonesia dengan jumlah penganut paling besar di seluruh dunia Islam, tidak lepas dari bantuan dan perlindungan yang diberikan penguasa. Dalam sejarah kontemporer, perkembangan politik Islam melalui pemimpin-pemimpinnya menegaskan, negara atau kekuatan politik struktural hanya diperlukan sebagai instrumen untuk menjamin pelaksanaan ajaran-ajarannya dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Memang dari sudut pandangan ajaran formalnya, Islam sering -tidak selalu- mendapati dirinya dalam keadaan ambivalen di negeri. Di satu pihak ajaran formal Islam tidak menjadi sumber tunggal dalam penetapan kebijakan kehidupan negara, karena memang negara ini bukan negara Islam. Tetapi negara ini juga bukan negara sekuler, yang memisahkan antara urusan pemerintahan dan keagamaan.

Dalam keadaan demikian, ajaran formal Islam berfungsi dalam kehidupan ini melalui jalur kultural (pendidikan, komunikasi massa, kesenian dan seterusnya). Dapat juga melalui jalur yang tidak langsung, melalui politik struktural. Jalur ini memungkinkan, karena kekayaan Islam yang hendak ditampilkan dalam kehidupan bernegara tidak semata-mata ditawarkan sebagai sesuatu yang Islami saja, melainkan sesuatu yang berwatak nasional.

Nilai-nilai Islam sebagai sumber budaya yang penting di Indonesia, sudah sewajarnya menjadi faktor menentukan dalam membentuk budaya politik, tata nilai, keyakinan, persepsi dan sikap yang mempengaruhi perilaku individu dan kelompok dalam suatu aktivitas dan sistem politik. Indikasi yang paling menonjol dalam hal ini adalah, bahwa ke lima sila dari Pancasila yang telah disepakati menjadi ideologi politik, semuanya bernafaskan nilai-nilai Islami.

Bagaimana implementasi nilai Islam dalam budaya politik yang Pancasilais, bergantung pada kekuatan nilai-nilai itu mempengaruhi proses politik itu sendiri. Bila terjadi kemerosotan pengaruh nilai-nilai keagamaan Islam dalam budaya politik, sesungguhnya yang terjadi adalah sekularisasi kultur politik. Ini lebih membahayakan dan lebih ruwet masalahnya, ketimbang pemisahan secara formal struktur pemerintahan dan keagamaan.

Meskipun di Indonesia tidak akan terjadi sekularisasi fungsional struktur pemerintahan dan keagamann secara tegas, namun sekularisasi kultur politik tidak mustahil dapat terjadi. Kemungkinan terjadinya hal ini cukup besar, seiring dengan perubahan sistem nilai, akibat kemajuan ilmu peangetahuan, teknologi dan industrialisasi. Ini pada gilirannya juga akan mempengaruhi perilaku politik formal-struktural.

Di sinilah pentingnya upaya kulturisasi politik, tanpa menimbulkan kerawanan-kerawanan tertentu terhadap proses perkembangan politik struktural. Bahkan perlu diupayakan adanya keseimbangan antara proses kulturisasi politik dengan proses politik struktural, agar tidak ada kesenjangan antara dua proseitu. Hal ini mungkin juga penting, untuk menghindarkan kecurigaan yang sering muncul dari kalangan elit politik formal terhadap aktivitas politik melalui jalur kultural.

***

Dalam ajaran Islam, pemenuhan keadilan dan kesejahteraan merupakan keharusan bagi suatu pemerintahan -tak perlu berlabel Islam- yang didukung oleh masyarakat. Rasulullah sendiri sebenarnya memberikan syarat, bahwa kekuasaan rnemang bukan tujuan dari politik kaum muslimin. Rasulullah sendiri mencanangkan usaha perbaikan budaya politik atau pelurusan pengelolaan kekuasaan dan menghimbau kaum muslimin terutama ulama dan para elite politiknya untuk menjadi moralis politik.

Hal ini memerlukan kesadaran tinggi dari kalangan politisi Islam, untuk dapat menumbuhkan semangat baru yang relevan dengan perkembangan kontemporer dalam corak dan format yang tidak berlawanan dengan moralitas Islam. Cara-cara tradisional dengan mengeksploitasi emosi massa pada simbol-simbol Islam, harus ditinggalkan. Yang lebih penting justru adalah mengorganisir kader politik muslim yang lebih lentur dan punya cakrawala luas, serta punya kejelian menganalisis masalah sosial dan politik, agar pada gilirannya kelompok politisi Muslim tidak selalu berada di pinggiran.

Peran ini sangat bergantung pada keluasan pandangan para elite Islam sendiri, kedalaman memahami Islam secara utuh, sekaligus keluasan cakrawala orang di luar kekuatan politik Islam dalam melihat potensi dan kekuatan moral Islam dalam mengarahkan proses kehidupan bangsa untuk mencapai keadilan dan kemakmuran yang dicita-citakan. Memang upaya ini tidak begitu mudah dan mulus, karena masih cukup banyak kendala di kalangan kaum muslimin sendiri.

Wawasan politik kaum awam yang masih bercorak paternalistik di satu pihak, serta kepentingan melihat politik sebagai pemenuhan kebutuhan sesaat di pihak lain, merupakan kendala yang tidak kecil. Soal politik bukan sekadar soal menyalurkan aspirasi untuk menegakkan kepemimpinan negara (imamah) semata, tapi soal menata kehidupan secara lebih maslahat bagi umat. Karena itu, yang penting bukanlah penguasaan kekuasaan struktur politik formal dengan mengabaikan proses kulturisasi politik dengan warna yang lebih Islami. Bila ini yang terjadi, maka kenyataan sekulerlah yang akan terwujud, dan hanya akan menjauhkan umat dari tujuan utamanya, sa’adatud darain.


*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah disampaikan dalam diskusi di Kendal, 4 Maret 1989.

sumber : nu.or.id


Thu, 20 Mar 2014, 1:49 am


Negara Islam, Adakah Konsepnya?
Oleh: KH Abdurrahman Wahid


Ada pertanyaan sangat menarik untuk diketahui jawabannya; apakah sebenarnya konsep Islam tentang negara? Sampai seberapa jauhkah hal ini dirasakan oleh kalangan pemikir Islam sendiri? Dan, apakah konsekuensi dari konsep ini jika memang ada? Rangkaian pertanyaan di atas perlu diajukan di sini, karena dalam beberapa tahun terakhir ini banyak diajukan pemikiran tentang Negara Islam, yang berimplikasi pada orang yang tidak menggunakan pemikiran itu dinilai telah meninggalkan Islam.

Jawaban-jawaban atas rangkaian pertanyaan itu dapat disederhanakan dalam pandangan penulis dengan kata-kata: tidak ada. Penulis beranggapan, Islam sebagai jalan hidup (syari’ah) tidak memiliki konsep yang jelas tentang negara. Mengapakah penulis beranggapan demikian? Karena sepanjang hidupnya, penulis telah mencari dengan sia-sia makhluk yang dinamakan Negara Islam itu. Sampai hari inipun ia belum menemukannya, jadi tidak salahlah jika disimpulkan memang Islam tidak memiliki konsep bagaimana negara harus dibuat dan dipertahankan.

Dasar dari jawaban itu adalah tiadanya pendapat yang baku dalam dunia Islam tentang dua hal. Pertama, Islam tidak mengenal pandangan yang jelas dan pasti tentang pergantian pemimpin. Rasulullah Saw digantikan Sayyidina Abu Bakar –tiga hari setelah beliau wafat. Selama masa itu masyarakat kaum muslimin, minimal di Madinah, menunggu dengan sabar bagaimana kelangkaan petunjuk tentang hal itu dipecahkan. Setelah tiga hari, semua bersepakat bahwa Sayyidina Abu Bakar-lah yang menggantikan Rasulullah Saw melalui bai’at/prasetia. Janji itu disampaikan oleh para kepala suku/wakil-wakil mereka, dan dengan demikian terhindarlah kaum muslimin dari malapetaka. Sayyidina Abu Bakar sebelum meninggal dunia, menyatakan kepada komunitas kaum muslimin, hendaknya Umar Bin Khattab yang diangkat menggantikan beliau, yang berarti telah ditempuh cara penunjukkan pengganti, sebelum yang digantikan wafat. Ini tentu sama dengan penunjukkan seorang Wakil Presiden oleh seorang Presiden untuk menggantikannya di masa modern ini.

Ketika Umar ditikam Abu Lu’luah dan berada di akhir masa hidupnya, ia meminta agar ditunjuk sebuah dewan pemilih (electoral college - ahl halli wal aqdli), yang terdiri dari tujuh orang, termasuk anaknya, Abdullah, yang tidak boleh dipilih menjadi pengganti beliau. Lalu, bersepakatlah mereka untuk mengangkat Utsman bin Affan sebagai kepala negara/kepala pemerintahan. Untuk selanjutnya, Utsman digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Pada saat itu, Abu Sufyan tengah mempersiapkan anak cucunya untuk mengisi jabatan di atas, sebagai penganti Ali bin Abi Thalib. Lahirlah dengan demikian, sistem kerajaan dengan sebuah marga yang menurunkan calon-calon raja/sultan dalam Islam sampai dengan khilafah Usmaniyyah/ottoman empire yang oleh para “Islam politik” dianggap sebagai prototype pemerintahan harus diadopsi begitu saja sebagai sebuah “formula Islami”.

***

Demikian pula, besarnya negara yang dikonsepkan menurut Islam, juga tidak jelas ukurannya. Nabi meninggalkan Madinah tanpa ada kejelasan mengenai bentuk pemerintahan bagi kaum muslimin. Di masa Umar bin Khattab, Islam adalah imperium dunia dari pantai timur Atlantik hingga Asia Tenggara. Ternyata tidak ada kejelasan juga apakah sebuah negara Islam berukuran mendunia atau sebuah bangsa saja (wawasan etnis), juga tidak jelas; negara-bangsa (nation-state), ataukah negarakota (city state) yang menjadi bentuk konseptualnya.

Dalam hal ini, Islam menjadi seperti komunisme: manakah yang didahulukan, antara sosialisasi sebuah negara-bangsa yang berideologi satu sebagai negara induk, ataukah menunggu sampai seluruh dunia di-Islam-kan, baru dipikirkan bentuk negara dan ideologinya? Menyikapi analogi negara Komunis, manakah yang didahulukan antara pendapat Joseph Stalin ataukah Leon Trotsky? Sudah tentu perdebatan ini jangan seperti yang dilakukan Stalin hingga membunuh Trotsky di Meksiko.

Hal ini menjadi sangat penting, karena mengemukan gagasan Negara Islam tanpa ada kejelasan konseptualnya, berarti membiarkan gagasan tersebut tercabik-tercabik karena perbedaan pandangan para pemimpin Islam sendiri. Misalnya kemelut di Iran, antara para “pemimpin moderat” seperti Presiden Khatami dengan para Mullah konservatif seperti Khamenei, saat ini. Satu-satunya hal yang mereka sepakati bersama adalah nama “Islam” itu sendiri. Mungkin, mereka juga berselisih paham tentang “jenis” Islam yang akan diterapkan dalam negara tersebut, Haruskah Islam Syi’ah atau sesuatu yang lebih “universal”? Kalau harus mengikuti paham Syi’ah itu, bukankah gagasan Negara Islam lalu menjadi milik kelompok minoritas belaka? Bukankah syi’isme hanya menjadi pandangan satu dari delapan orang muslim di dunia saja?

***

Jelaslah dengan demikian, gagasan Negara Islam adalah sesuatu yang tidak konseptual, dan tidak diikuti oleh mayoritas kaum muslimin. Ia pun hanya dipikirkan oleh sejumlah orang pemimpin, yang terlalu memandang Islam dari sudut institusionalnya belaka. Belum lagi kalau dibicarakan lebih lanjut, dalam arti bagaimana halnya dengan mereka yang menolak gagasan tersebut, adakah mereka masih layak disebut kaum muslimin atau bukan? Padahal yanga menolak justru adalah mayoritas penganut agama tersebut?

Kalau diteruskan dengan sebuah pertanyaan lain, akan menjadi berantakanlah gagasan tersebut: dengan cara apa dia akan diwujudkan? Dengan cara teror atau dengan “menghukum” kaum non-muslim? Bagaimana halnya dengan para pemikir muslimin yang mempertahankan hak mereka, seperti yang dijalani penulis? Layakkah penulis disebut kaum teroris, padahal ia sangat menentang penggunaan kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan. Lalu, mengapakah penulis juga harus bertanggungjawab atas perbuatan kelompok minoritas yang menjadi teroris itu?


*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas, 18-April 2002.

sumber : nu.or.id


Thu, 20 Mar 2014, 12:41 am


Jusuf Kalla, Philantropist dari Indonesia
Oleh: Dian Permata

Kalau bukan saya (terpilih dan menang), saya akan pulang kampung, mengurus pendidikan, mengurus masjid, dan mengurus perdamaian jika diperlukan,” kata Jusuf Kalla, dalam debat capres-cawapres, 3 Juli 2009.Begitu closing statement Jusuf Kalla (JK) saat debat kandidat capres-cawapres Pilpres 2009. Pernyataan itu sekaligus mengisyaratkan, pria kelahiran Watampone, Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 194,2 akan mundur selamanya dari dunia politik bila gagal dalam Pilpres 8 Juli 2009.

Yudi Latief, peneliti Reform Institute menilai, pernyataan Jusuf Kalla itu patut ditiru. Alasannya sederhana. Dalam dunia politik diperlukan juga suatu regenerasi. Sebagai contoh, mantan politisi dan presiden di Amerika Serikat langsung pulang kampung membuat yayasan-yayasan sosial. Sebagai contoh, Jimmy Carter Foundation dan Habibie Center—untuk contoh Indonesia.

Dan benar saja, setelah mengetahui kekalahannya dalam kontestasi Pilpres 2009, JK—demikian Jusuf Kalla sering disapa, langsung banting setir ke dunia yang jauh dari hiruk pikuk dunia politik. Pilihannya jatuh ke Palang Merah Indonesia (PMI). Dalam munas PMI ke-19 di Hotel Milenium, Jakarta, 22 Desember 2009, saudagar kaya ini terpilih secara aklamasi.

Tidak itu saja. JK juga aktif di Lembaga Yayasan Wakaf Paramadina. Dengan demikian, Jusuf Kalla sudah menepati dua (2) janji yang ia deklarasikan pada saat debat kandidat capres-cawapres. Di bidang perdamaian ia terpilih menjadi Ketua PMI. Di bidang keagamaan, ia menjadi pengurus Yayasan Wakaf Paramadina. Tinggal satu (1) janji lagi yang belum ia wujudkan yakni di bidang pendidikan.

Philanthropist Bergerak
Menurut kamus merriam-webster, Philantropist adalah  diartikan sebagai seseorang yang secara aktif serta berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Dalam kamus Webster’s Revised Unabridged Dictionary, kata philanthropist adalah sebagai mereka yang mencintai kemanusiaan dan selalu mengupayakan untuk berbuat kebaikan bagi sesamanya. Ada juga yang mengartikan Philanthropist adalah usaha untuk meningkatkan sisi kemanusian.

Bill Gates—pendiri Microsoft dan Oprah Winfrey, adalah contoh sedikit orang yang berjiwa philanthropy. BBC News melaporkan Bill & Melinda Gates Foundation sampai tahun 2005 saja telah mendonasikan dana sebesar total 27 Milyar Dollar ke lebih dari 100 negara. Semuanya untuk kegiatan nirlaba—lembaga yang tidak mengutamakan keuntungan, seperti pemberantasan TBC, malaria, dan penanggulangan HIV. Yayasan Oprah’s Angel Network, Oprah telah menyalurkan dana sebesar 300 Juta Dollar.

Yang paling anyar adalah bergabungnya Mark Zuckerberg ke dalam kelompok tersebut. Pendiri Facebook itu menyumbang 100 juta dolar Amerika Serikat kepada sekolah-sekolah di Newark, New Jersey. Bangkrutkah Bill Gates, Winfrey, dan Mark Zuckerberg? Kenyataan tidak. Justeru sebaliknya. Bisnis Microsoft justru menggurita. Sedangkan popularitas dan jaringan bisnis Oprah bahkan telah menginspirasi jutaan pemirsa di seluruh dunia. Sedangkan social media yang dimiliki Zuckerberg makin mendunia.

Untuk ukuran orang Indonesia, JK patut dijadikan role model. Sebagai contoh, keputusannya untuk menjadi Ketua Umum PMI terbilang tepat. Bahkan, pendapat itu banyak diamini publik. Termasuk diri saya di dalamnya. Alasannya juga sangat sederhana. JK adalah tipikal pemimpin yang cepat dalam mengambil keputusan. Perhitungannya pun terbilang cepat. Untuk urusan hal ini, hitung-menghitung, dia adalah jagonya. Maklum dia adalah pedagang tulen nan sukses.

Dengan tag line pada saat kampanye Pilpres 2009, Lebih Cepat Lebih Baik, sejatinya secara tidak sadar dirinya telah mewaqafkan dirinya untuk lembaga seperti PMI. Bagaimana tidak? Di negeri rawan bencana seperti ini, Indonesia butuh lembaga dan pemimpin yang bergerak cepat dan tanggap. Karena itu, Tag Line Lebih Cepat Lebih Baik, milik tim ses JK-Win, bisa dimanefestasikan dalam bentuk kerja PMI. Alasannya, PMI yang bergerak dalam berbagai masalah kemanusiaan tentu tidak akan bisa bekerja efektif bila gerakkannya lambat.

Contoh yang paling anyar adalah ketika peristiwa Tsunami Mentawai dan Erupsi Merapi. Selangn beberapa jam tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, JK dan PMI segera mendirikan posko di Mukomuko, Bengkulu. Pemilihan Mukomuko sebagai posko PMI patut diancungi jempol. Karena, secara geografis, wilayah Kabupaten Mukomuko relatif aman ketimbang Kota Padang yang banyak dipilih lembaga kemanusian sebagai posko bantuan tsunami.

Untuk alat distribusi bantuan, PMI langsung menggunakan tiga (3) helikopter. Pilihan penggunaan helikopter lantaran penggunaan transportasi laut terhambat ombak besar. Seminggu pasca tsunami di Mentawai, PMI mulai membangun kembali rumah korban tsunami. PMI telah menyiapkan 50 ribu seng dan ratusan alat pertukangan. Ketua Umum PMI JK sudah meletakkan batu pertama pembangunan kembali rumah di Sikakap, Pulau Pagai Utara.

Sedangkan upaya penyelamatan dan memerlancar proses evakuasi korban letusan Merapi, PMI menerjunkan dua (2) Hagglunds di wilayah Cangkringan. Hagglunds merupakan kendaraan segala medan yang dapat bergerak di es, jalan terjal, dan di daerah yang sulit dijangkau dengan kendaraan biasa. Kendaraan ini menggunakan rantai bergerigi untuk berjalan sehingga mampu menembus area sulit. Dengan kendaraan ini diharapkan nantinya proses evakuasi untuk korban yang tidak dapat terjangkau dengan kendaraan biasa akan dapat tertolong, meskipun di tempat yang susah dijangkau.

Bagi publik, penggunaan alat-alat canggih nan modern oleh PMI dalam proses evakuasi tidak bisa dilepaskan dari peran JK. Tentu saja, sambutan publik sangat positif. Lantaran evakuasi korban erupsi terhalang oleh ketersedian transportasi yang memadai untuk bencana seperti erupsi Merapi dapat dilakukan. Sama seperti di Mentawai, JK sudah berpikir lebih jauh tentang pemulihan pasca bencana. Karena itu, PMI menyumbang 100.000 cangkul untuk membersihkan permukiman penduduk dari abu vulkanik. Bahkan, bila perlu, PMI juga siap membantu membetulkan atap rumah, memberikan peralatan gali kubur, dan bibit tanaman kepada korban bencana.

Dalam ajaran agama, sudah berkali-kali ditegaskan bahwa jika kita berbagi dengan sesama, maka Tuhan akan membalasnya dengan berkali-lipat banyaknya. Para philanthropist ini adalah buktinya. Bahkan, fenomena tersebut bisa dijelaskan dengan sangat ilmiah untuk membantu kita memahaminya secara rasional.

Dari sudut pandang Fisika Kuantum, setiap partikel sub-atomik disusun atas “pilinan” energi yang disebut QUARK. Maka quark adalah penyusun yang terkecil dari alam semesta. Partikel sub-atomik itulah yang akan menyusun inti atom dan elektron, dan kemudian menyusun molekul, dan seterusnya. Uniknya, quark dari semua mahluk di alam semesta ini adalah SERUPA. Saya, Anda, kita, pohon, tanah, air, udara, tersusun atas quark yang sama. Seolah-olah, alam semesta ini adalah sebuah organisme tunggal.

Erbe Sentanu dalam bukunya, Quantum Ikhlas, mengatakan, di level kuantum, apa yang disebut subyek, obyek atau predikat ternyata adalah SATU. Ini artinya, bila Anda berbagi dengan sesama, menolong orang lain, merawat lingkungan, sebenarnya Anda memberi kepada diri Anda sendiri.
Di sinilah kemurahan “sistem akuntansi Tuhan”, karena Anda akan menerima LEBIH dari yang telah Anda berikan. Berbagilah, ulurkanlah tangan Anda, tebarkanlah ilmu, maka niscaya Sang Maha Pemurah akan menghadirkan “pengungkit” dan “pemungkin” dalam kehidupan Anda. (Andrie Wongso).Lantas bagaimana dengan Anda dan kita semua? Apakah tidak ingin bergabung menjadi kaum philantropist? Apakah Anda tidak ingin bergabung seperti Jusuf Kalla? Mudah-mudahan setelah membaca artikel ringan ini, Anda dan kita segera bergabung dengan kelompok-kelompok yang mau mendermakan hartanya demi kemanusian. Mudah-mudahan artikel Jusuf Kalla dan Philantropist ini, dapat menjelaskan secuil dunia tentang kaum philantrophy.

sumber : dianpermata.com


Wed, 12 Mar 2014, 4:13 am


Renungan Tragedi Sondang Hutagalung


Sudah lawas memang, tragedi bakar diri yang dilakukan oleh Aktivis / Mahasiswa UKB yang bernama Sondang Hutagalung ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu atau tepatnya pada Desember 2011, tapi pesan perjuangannya akan selalu hadir dalam setiap langkah perjuangan HAM dan perlawanan terhadap Korupsi. Mahasiswa yang nekat membakar diri di depan Istana Negara ini akan selalu dikenang dan perjuangannya akan terus dikobarkan. seperti pesan yang Dia sampaikan “Kuserahkan Nyawaku, Lanjutkan Perjuanganku Kawan!

Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Ini merupakan video renungan atas tragedi kematian Sondang Hutagalung yang dibuat oleh K.H Maman Imanulhaq Faqieh , Pimpinan Ponpes Al-Mizan Jatiwangi Majalengka.



sumber gambar : amar-nemars.blogspot.com


Mon, 10 Mar 2014, 1:07 am


Menggunakan Filter pada Gmail (untuk mengelola pesan supaya tidak berantakan)

Menggunakan Filter pada Gmail (untuk mengelola pesan supaya tidak berantakan)


Hampir setiap orang sudah memiliki e-mail (surat elektronik). Banyak layanan e-mail yang bisa digunakan, salah satunya yaitu dari google dengan brand Gmail pada alamat gmail.com. Namun demikian, masih banyak yang belum tahu bagaimana mengelola email dengan baik. E-mail tidak saja digunakan untuk berkirim surat/pesan, tetapi juga digunakan untuk mendaftarkan akun pada suatu layanan lain yang berbasis internet. Misalnya saja untuk mendaftarkan akun baru di facebook atau twitter kita diharuskan memasukkan alamat email yang kita miliki. Belum lagi jika kita berlangganan pada milis (mailing list) atau mengikuti newsletter pada website tertentu. Setiap kali kita mendaftar pada layanan lain yang diharuskan untuk mendaftarkan email, email kita akan mendapatkan pemberitahuan berkala yang sudah ditentukan oleh setiap layanan masing-masing. Oleh karena itu, bisa saja email kita akan berantakan jika tidak kita kelola dengan baik. Bahkan saat ini email spam mudah sekali masuk.Gmail memiliki fitur yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah 'berantakan' dan email spam tersebut, yaitu fitur FIlter. Filter Gmail memungkinkan untuk mengelola aliran pesan masuk. Dengan menggunakan filter, Anda dapat memberi label, mengarsip, menghapus, memberi bintang, atau meneruskan email, bahkan menghindari pesan dari Spam secara otomatis.

Untuk membuat filter pada Gmail

  1. Buka Gmail.
  2. Klik panah bawah di kotak penelusuran Anda. Sebuah jendela yang akan mengizinkan Anda untuk menentukan kriteria akan muncul.
  3. Masukkan kriteria penelusuran. Jika Anda ingin memeriksa apakah penelusuran bekerja dengan benar, klik tombol penelusuran.
  4. Klik Buat filter dengan penelusuran ini (Create filter with this search) di sudut bawah jendela penelusuran. Jika perlu memverifikasi hasil penelusuran, Anda bisa mengeklik x untuk menciutkan opsi filter. Klik lagi panah turun akan membuat jendela kembali dengan kriteria penelusuran yang Anda masukkan.
  5. Pilih tindakan filter yang Anda inginkan.Agar tetap teratur, beberapa orang ingin mendapat pesan masuk diberi label dan dihapus dari kotak masuk secara otomatis hingga nanti bisa dilihat di saat yang tepat. Jika Anda ingin melakukannya, pastikan untuk memilih Langkahi Kotak masuk (Arsipkan) / Skip the Inbox (Archive it) dan Terapkan label: (Apply the label:)
  6. saat membuat filter.
  7. Klik tombol Buat filter (Create filter).
Perlu diingat: Ketika Anda membuat filter untuk meneruskan pesan, hanya pesan baru saja yang akan terpengaruh. Setiap pesan yang sudah ada, yang diterapkan filter, tidak akan diteruskan.

Untuk menggunakan pesan tertentu guna membuat filter

  1. Buka Gmail.
  2. Pilih pesan di daftar pesan.
  3. Klik tombol Lainnya (More), kemudian Filter pesan-pesan seperti ini (Filter messages like these).
  4. Masukkan kriteria filter di bidang yang sesuai.

Untuk mengedit atau menghapus filter yang ada

  1. Buka Gmail.
  2. Klik ikon roda gigi di bagian kanan atas.
  3. Pilih Setelan (Settings).
  4. Klik tab Filters.
  5. Cari filter yang Anda ingin ubah dan klik edit atau hapus (delete) untuk menghapus filter.
  6. Jika Anda mengedit filter, masukkan kriteria yang untuk diperbarui filter tersebut di bidang yang sesuai, dan klik Lanjutkan (Continue).
  7. Perbarui setiap tindakan dan klik tombol Perbarui filter (Update Filter).
Anda bisa membuat filter dalam jumlah tak terbatas, tapi hanya 20 filter yang dapat digunakan untuk meneruskan email ke alamat lain. Anda dapat memaksimalkan penerusan yang difilter dengan menggabungkan filter yang mengirim ke alamat yang sama.

Untuk mengekspor atau mengimpor filter

Jika Anda seorang yang mahir menggunakan filter dan memiliki sistem filter besar yang ingin digunakan di akun lain atau dibagikan kepada teman, Anda dapat megekspor dan mengimpor filter.
  1. Buka Gmail.
  2. Klik ikon roda gigi di bagian kanan atas.
  3. Pilih Setelan (Settings).
  4. Klik tab Filters.
Untuk mengekspor filter, centang kotak di sebelah filter, dan klik tombol Ekspor (Export ) di bagian bawah laman. Tindakan ini akan memberikan file .xml, yang dapat diedit di editor teks jika Anda mau.Untuk mengimpor filter, klik tautan Impor filter (Import filters) di bagian bawah laman. Pilih file dengan filter yang ingin Anda impor dan klik tombol Buka file (Open file). Klik Buat filter (Create filters) untuk menyelesaikan proses mengimpor filtersumber : support.google.com


Tue, 4 Mar 2014, 12:09 am


Gus Mus - In the Name Of (Atas Nama)


English version

In the Name Of
by : Gus Mus

Some, in the name of God, despise and insult God;
Some, in the name of patriotism, rob their nation blind;
Some, in the name of the people, oppress and exploit the people;
Some, in the name of humanity, prey on their fellow man;
Some, in the name of justice, corrupt justice;
Some, in the name of unity, undermine unity;
Some, in the name of peace, destroy the peace;
Some, in the name of freedom, imprison freedom;
So, in the name of whoever or whatever, let your curses fly;
Or... acting in My Name... battle the ignorant with love and compassion.

-------------
Versi Bahasa Indonesia

Atas Nama
oleh : Gus Mus

Ada yang atasnama Tuhan melecehkan Tuhan
Ada yang atasnama negara merampok negara
Ada yang atasnama rakyat menindas rakyat
Ada yang atasnama kemanusiaan memangsa manusia

Ada yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilan
Ada yang atasnama persatuan merusak persatuan
Ada yang atasnama perdamaian mengusik kedamaian
Ada yang atasnama kemerdekaan memasung kemerdekaan

Maka atasnama apa saja atau siapa saja
Kirimlah laknat kalian
Atau atasnamaKu perangilah mereka!
Dengan kasih sayang!

-------------
Dokumentasi Youtube :


sumber : libforall.org


Tue, 18 Feb 2014, 2:53 am


Lima Pemikiran Fundamental Gus Dur

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) memaparkan lima pemikiran fundamental mantan Presiden Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) saat memberikan sambutan haul ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (3/1/2014) malam.

"Lima pemikiran besar beliau hampir semuanya masih relevan, hampir semuanya ini menjadi amanah dan agenda sepanjang masa," kata SBY di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

SBY mengatakan lima pemikiran Gus Dur tersebut merupakan intisari dari pembicaraannya secara pribadi dengan Gus Dur saat dirinya menjadi menteri presiden ke-4 tersebut.

Pertama, menurut Presiden Yudhoyono, Gus Dur menginginkan agar Indonesia menjadi negara majemuk yang rukun.

"Kedua, beliau sangat gigih dan bahkan mengawali era kepresiden untuk menghilangkan diskriminasi dengan alasan apa pun. Saya sekarang melanjutkan apa yang dicita-citakan, ini sangat penting," kata SBY .

Ketiga, Gus Dur mengharapkan peran masyarakat yang partisipatif dan mengurangi peran negara yang dominan. Menurut Presiden, saat ini memang sudah tidak lagi berada dalam sistem otoritarian. Namun, sayangnya masih terdapat pola pikir otoriter dalam masyarakat. Untuk itu, perlu terus mendorong masyarakat yang partisipatif.

Keempat, negara tidak boleh mengontrol pikiran rakyatnya. "Bagi masyarakat yang sudah matang dan arif menggunakan haknya, negara memberikan ruang kepada mereka karena masyarakat sudah matang," katanya. Menurut Presiden, dalam masyarakat yang telah matang, warga negara menyadari batas-batas kebebasannya. Kendati demikian, pada masa transisi, selalu ada ekses dalam mengekspresikan kebebasannya.

Kelima, menurut Presiden Yudhoyono, Gus Dur menginginkan hubungan sipil dan militer yang sehat. "Masing-masing mengerti di mana domainnya," kata SBY . Ini berarti militer tidak boleh mendominasi sipil. Namun, sipil juga harus mengetahui batas-batas wilayahnya.

Presiden mencontohkan militer tidak boleh memaklumatkan perang. Perang hanya boleh dinyatakan oleh Presiden dan dengan persetujuan DPR RI. Namun, pada saat perang, militerlah yang melakukan operasi perencanaan dan serangan, sipil tidak boleh mencampuri.

sumber : merdeka.com


Mon, 17 Feb 2014, 9:10 pm


Tidak Bisa Install Microsoft Office 2007 karena Install Windows XP melalui USB Flashdisk

Menginstall Windows XP dengan USB Flashdisk merupakan salah satu solusi ketika akan menginstall ulang komputer kita namun Drive DVD/CD ROM-nya bermasalah. Begitu pula yang saya lakukan saat menginstall ulang komputer saya, dikarenakan drive DVD RW saya sudah rusak. Perasaan lega pun muncul setelah selesai dan berhasil menginstall ulang (windows XP) menggunakan USB Flashdisk tersebut.

Alih-alih disangka akan lancar-lancar saja setelah selesai menginstall ulang, ternyata ada masalah baru. Masalah baru tersebut yaitu tidak dapat menginstall Microsoft Office 2007. Muncul pesan/peringatan yang artinya 'ada file windows yang diproteksi dan windows tidak bisa melakukan update system'. Awalnya heran karena program/aplikasi lain berhasil diinstall tanpa masalah. Saya coba menginstall Ms. Office 2003 dan ternyata berhasil, oleh karenanya saya mengira Installer Microsoft Office 2007 saya yang bermasalah. Tetapi, setelah saya meminta Installer Microsoft Office 2007 kepada teman saya, ternyata masih tetap saja tidak berhasil diinstall. Oleh karena itu, saya mencoba mencari penyebabnya di google, dan alhamdulillah mendapatkan solusinya dari Blog.Depohar.info .

Untuk mengatasai masalah yang saya alami diatas adalah dengan memasukkan file "fp4autl.dll" ke dalam folder "C:\Program Files\Common Files\Microsoft Shared\web server extensions\40\bin". File "fp4autl.dll" dapat kita peroleh dari komputer teman yang tidak bermasalah (dengan OS Windows XP juga tentunya), cari pada lokasi/folder yang sama dengan lokasi tujuan yang telah disebutkan di atas. Selain itu, kita bisa mendapatkan file tersebut pada CD Installer Windows XP. File tersebut tersembunyi dalam file cab / rar di folder I386 CD Installer Windows XP.

Demikian, semoga membantu. :)


Sun, 16 Feb 2014, 11:18 pm


Kenapa Moodle Anda sangat lambat? : berikut lima pengaturan sederhana!

Kenapa Moodle Anda sangat lambat? : berikut lima pengaturan sederhana supaya kinerjanya lebih optimal! 


Here are some simple settings that any Moodle administrator can change from the Site Administration menu that will help to improve his/her Moodle site's performance. Some of these changes come at the cost of functionality, so sometimes you have to pick between a particular feature and performance (or a faster server), but often these settings are just enabled out of curiosity with no discernible reward other than a slower site.

AUTOMATED BACKUP SETUP

Disable Automated backup setup for courses by setting Activeto disabled in the pull down menu. The Moodle course backup and restore feature, while a convenient mechanism for moving courses between Moodle sites, is not very efficient. As the number of courses and the size of the courses on your site increase, the scheduled course backup process takes longer and longer to complete. This can cause extreme site slowdowns while it's running. Additionally, it makes it harder for your server's backup system to complete its own nightly backups.
Site administration / ▶ Courses / ▶ Backups / ▶ Automated backup setup
Many users mistakenly view this as a way to restore their Moodle site in the event of a disaster. While it's possible to use these course backups to restore most of a site, it's not ideal or guaranteed to work when you need it. Disaster recovery backups should be performed outside of the scheduled course backup feature.

STATISTICS

Make sure Enable statistics is unchecked. Many administrators discover this setting and turn it on simply to see what it does. A common scenario is that a site will be performing well for a year or more and then suddenly experience problems when this setting is enabled. This setting includes options for how long to allow the statistics gathering to run in one session and how far back to process. If you must run statistics make sure to limit how long you allow the process to run. I recommend letting it run no more than 2 hours per session.
Site administration / ▶ Advanced featuresUpcoming versions of Moodle may have an improved version of statistics that should reduce the load on the server's database by several orders of magnitude. So if you really need this feature, keep your eyes on MDL-30643.

THEME DESIGNER MODE

Disable Theme designer mode on production Moodle sites. Theme designer mode is a great Moodle version 2 feature, if you are updating your theme and want to quickly see the impact of changes. It does this by having the Moodle server tell web browsers to not cache any of the images, css, and javascript that make up your theme. When this feature is enabled, every page view for every user must download every media object directly from the Moodle server. This makes viewing pages very very slow and greatly increases the load on the server. Administrators often enabled this to update their theme and then forget to turn it off. The best practice is to develop your theme on a testing site and then move it over to production only after it has been completed.
Site administration / ▶ Appearance / ▶ Themes / ▶ Theme settings

CLEANUP

Set Keep logs for and Grade history lifetime to 365 days or less. By default Moodle will keep both your logs and grade history forever. For long established sites, these logs start to become the majority of the database. I have seen cases where log tables consumed 90% or more of the database. As a general rule the more of your database that fits into your server RAM the faster your database will perform. By limiting the size of these logs, you can make your site much faster.

Site administration / ▶ Server / ▶ CleanupNote: If you have a really large log, it may make your site even slower while the cleanup runs. Consider changing this setting during a low-use time or during a maintenance window. In extreme cases, it can take several hours for the cleanup query to complete the first time.

SESSION HANDLING

Disable Use database for session information by unchecking the box. Starting with Moodle version 2 and above the default setting is to have database sessions enabled. In our infrastructure, we have seen much better performance using file based sessions rather than having the database handle them. This is dependent on the server setup, but it's worth disabling to see if your performance improves.

Site administration / ▶ Server / ▶ Session handling

PRO-TIPS 

Below are some additional tips that take a bit more effort, but provide additional benefits related to ensuring great performance for your Moodle site.

Running multiple simultaneous manual course backups can sometimes cause problems. Avoid creating situations where many course backup / restores need to run at the same time. This is a common problem for the start of a new school term. Often instructors will be asked to duplicate their prior courses for the new term. Moodle doesn't provide any internal mechanism to queue backup requests so that they don't overwhelm your server. If enough instructors are doing this at the same time, it can make a Moodle site nearly unusable.

While all of these settings can be accessed from the Moodle interface, if you want to really make sure none of your site administrators accidentally sets one of these incorrectly, enter the desired value in your config.php file so that it cannot be enabled accidentally.

Consider starting with a clean install of Moodle once a year to have the smallest database footprint and ensure the best performance for your site.sumber : Opensource e-Learning


Sun, 17 Nov 2013, 6:15 pm


Wafatnya Ulama Bencana Bagi Alam Semesta

Dalam kitab Tanqih al-Qaul, al-Imam al-Hafidz Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات

“Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik.”

Menangislah, karena meninggalnya seorang ulama adalah sebuah perkara yang besar di sisi Allah. Sebuah perkara yang akan mendatangkan konsekuensi bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantisa mendengar petuah mereka. Menangislah, jika kita ternyata selama ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama.

عن ابن عباس ، في قوله تعالى : أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا سورة الرعد آية 41 قال : موت علمائها . وللبيهقي من حديث معروف بن خربوذ ، عن أبي جعفر ، أنه قال : موت عالم أحب إلى إبليس من موت سبعين عابدا .

Ibnu Abbas Ra. berkata tentang firman Allah: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. ar-Ra’d ayat 41). Beliau mengatakan tentang (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya para ulama.”

Dan menurut Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far Ra. berkata: “Kematian ulama lebih dicintai Iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”

Al-Quran secara implisit mengisyaratkan wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab kehancuran dunia, yaitu firman Allah Swt. yang berbunyi:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. ar-Ra’d ayat 41).

Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya). Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama. (Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 472).

Rasulullah Saw. yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah Saw. bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran
yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.” (HR. ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda).

Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu

Umat manusia dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.:

خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ

“Ambillah (pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi.” Sahabat bertanya: “Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah Saw. menjawab: “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama).” (HR. ad-Darimi, ath-Thabarani no. 7831 dari Abu Umamah).

Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, diantaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehinga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambaNya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100).

Kendatipun telah banyak kyai atau ulama yang telah wafat, dan wafatnya kyai atau ulama adalah sebuah musibah dalam agama, maka harapan kita adalah lahirnya kembali ulama yang meneruskan perjuangannya. Aamiin

Harapan ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra.:

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه

“Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya.” (Ihya ‘Ulumiddin juz 1 halaman 15).

Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

Penulis : Syamfuri Asy-Syaroni

sumber : Kumpulan Foto Ulama dan Habaib


Sun, 27 Oct 2013, 6:52 am


4 Amalan yang Memudahkan dan Mempersulit Rezeqi


Sayyidinal Imam Al-Muththalibiy Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i رضي الله عنـه ato lebih dikenal dengan Imam Syafi'i رضي الله عنـه , beliau Hafal Al-Qur'an Al-Karim pada usia 7 Tahun, Hafal Kitab "Muwathhta' Malik" pada usia 10 tahun, dan menjadi Mufti pada usia 15 Tahun, menyebutkan bahwa ;

Ada 4 hal yg mendatangkan rezeqi, yaitu ;
1. Bangun Malam
2. Banyak Beristighfar di waktu sahur (Menjelang Subuh)
3. Selalu Bersedekah
4. Dan berdzikir pada awal siang (yakni pagi hari) dan pada akhir siang (yakni petang/sore hari).

Dan ada 4 hal yg mencegah (menghalangi) rezeqi, yaitu ;
1. Tidur di pagi hari
2. Sedikit melakukan Shalat
3. Malas
4. Dan Khianat

Sayyidina Abu Ja'far Nashiruddin bin Muhammad bin Muhammad bin Al-Hasan Ath-Thusi رضي الله عنـه, beliau seorang filosof dan sangat Alim dalam ilmu² Aqliyah dan memiliki banyak karangan penting, wafat di Baghdad (597-672 H) menyebutkan di dalam Kitab "Adab Al-Muta'allimin" ;

"Diantara yg juga menghalangi rezeqi adalah banyak tidur, makan dan minum dalam keadaan junub, menyapu rumah pada malam hari, membiarkan sampah di dalam rumah, berjalan mendahului orang tua, mencuci tangan dengan tanah (kecuali untuk mencuci najis Mugholazhah), duduk di tangga, berwudhu di tempat buang hajat, menjahit pakaian tanpa melepasnya dari badan, mengeringkan wajah dengan pakaian, membiarkan sarang laba² di dalam rumah, menganggap enteng shalat, mematikan pelita dengan nafas (tiupan), dan tidak mendo'akan orang tua"

Smua hal yg disebutkan diatas itu menyebabkan kefakiran. Hal itu diketahui dari Atsar.

("Al-Manhaj As-Sawiy, Syarh Ushul Thariqah As-Sadah Al Ba 'Alawi", Sayyidinal Imam Al-'Allamah Sayyid Zain bin Ibrahim Bin Sumaith)
sumber : https://www.facebook.com/fudholi.hamzah


Tue, 7 May 2013, 8:35 am


Kiyai Wahab, NU Dan Khilafah


“Menjawab Fitnah HTI terhadap KH. Wahab Chasbullah dan Isu Khilafah”

Oleh: Dr. H. Ainur Rofiq Al-Amin, SH, M.Ag (Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang dan penulis buku “Membongkar Proyek Khilafah ala HTI di Indonesia”)

************************************

Ide tentang penegakan kembali khilafah, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam disertasi, disuarakan dengan sangat lantang dan nyaring oleh kelompok Islam kanan, utamanya adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kelompok ini, seperti yang bisa disaksikan baik lewat tulisan, orasi ketika berdemonstrasi, selalu mengulang-ulang untuk menegakkan khilafah. Khilafah menjadi mainstream perjuangannya, bahkan ideologi politiknya, yang kata mereka akan manjur untuk mengatasi seluruh problem manusia di dunia ini.

Kelompok ini dengan semangat militan berupaya merekrut kader sebanyak-banyaknya, tak terkecuali kader dari ormas-ormas keagamaan baik NU maupun Muhammadiyah. Dalam upaya merekrut kader dari kalangan NU, mereka menggunakan berbagai argumen yang diharapkan agar kader-kader NU yang tulus dan lugu ini tertarik menjadi pengikutnya. Nampaknya, argumen-argumen yang dikemukakan oleh aktivis HTI juga dapat memikat kader NU, terbukti beberapa kader NU menjadi anggota Hizbut Tahrir (termasuk penulis yang dulu juga pernah menjadi anggota Hizbut Tahrir).

Argumen yang dijadikan pijakan oleh aktivis HTI untuk menundukkan kader dan warga NU paling tidak ada dua:

1. Argumen Historis Kelahiran NU

Salah seorang aktivis HTI, Irkham Fahmi dalam tulisannya, “Membongkar Proyek Demokrasi ala PBNU abad 21” menjelaskan bahwa cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama adalah cita-cita agung para ulama nusantara yang tertuang dalam komite khilafah Indonesia. Selanjutnya Irkham Fahmi menegaskan bahwa KH. Sholahuddin Wahid mengakui keabsahan sejarah ini, sekalipun Gus Sholah menolak relevansi khilafah dengan Indonesia.

Masih banyak lagi tulisan-tulisan sejenis apabila kita berselancar di internet seperti judul, “KH. Abdul Wahab Hasbullah, Tokoh NU & Inisiator Konferensi Khilafah 1926,” atau judul, “NU, NKRI dan Khilafah,” demikian pula judul, “Warga NU Rindu Syariah dan Khilafah,” judul lain, “Respon NU atas Runtuhnya Khilafah,” bahkan tidak hanya mencatut NU, tapi juga ormas Islam lain seperti judul, “Generasi Awal Muhammadiyah & NU Ternyata Pendukung Khilafah.” Basis argumen dari semua judul di atas adalah masalah komite khilafah.

Untuk menjawab argumen di atas, secara historis memang pernah terbentuk apa yang disebut komite khilafah atau CCC (Central Comite Chilafah). Namun yang perlu diklarifikasi adalah, komite ini bukan dibentuk Mbah Wahab, tapi bentukan berbagai kelompok Islam (SI, Muhammadiyah, al-Irsyad, PUI, dll) yang pada waktu itu mempunyai suara mayoritas. Sekalipun bisa jadi Mbah Wahab dan ulama lain dari kalangan pesantren pernah diajak untuk masuk komite ini. Bukti bahwa komite khilafah bukan bentukan Mbah Wahab dan para ulama pesantren adalah pada kongres-kongres selanjutnya para ulama ini tidak mengikutinya.

Justru yang perlu ditegaskan, selain ada komite khilafah, terdapat Komite Hijaz yang memang genuine atau asli bentukan para ulama pesantren yang nantinya bergabung dengan NU. Komite Hijaz ini lahir, selain tidak sepahamnya Mbah Wahab dengan misi komite khilafah, juga karena kurang aspiratifnya komite ini, juga semangat memperjuangkan tradisi ala ulama seperti ziarah kubur, merayakan Maulid Nabi, berislam dengan cara bermazhab agar tidak diberangus oleh kelompok al-Saud atau Wahhabi yang saat itu sampai sekarang berkuasa di Hijaz dan sekitarnya.

Komite Hijaz inilah salah satu cikal bakal kelahiran NU. Akhirnya menjadi tidak benar kalau cikal bakal kelahiran NU adalah dari komite khilafah yang berusaha melakukan pertemuan internasional untuk membahas runtuhnya Turki Utsmani.

2. Argumen dari Teks-teks Khilafah dalam Kitab Kuning

Para aktivis HTI memahami bahwa ulama dan kader NU sangat mencintai kitab kuning yang ini dibuktikan dengan diajarkannya kitab-kitab tersebut di pesantren-pesantren NU, sekaligus kitab-kitab ini menjadi rujukan dalam bahtsul masail NU ketika menghadapi suatu masalah baru dalam keagamaan. Salah seorang penulis dan aktivis HTI, Musthafa A. Murtadlo menulis sebuah buku saku untuk memperkuat argumentasi khilafah dengan mengumpulkan pendapat-pendapat para ulama salaf tentang hal tersebut. Inti dari buku saku tersebut adalah semua ulama salaf dalam kitab kuning yang menjadi rujukan NU mendukung ide khilafah. Lihat Musthafa A. Murtadlo, Aqwal Para Ulama Tentang Wajibnya Imamah (Khilafah).

Argumen kedua ini kalau tidak dicermati secara jeli, maka para kader NU yang tulus dan bergelut dengan kitab kuning akan sangat mempercayainya kemudian mengapresiasi atau bahkan ikut HTI. Namun yang perlu diketahui bahwa konsep atau pemikiran tentang kepemimpinan umat Islam dari para ulama salaf tersebut tidak sama persis dengan yang ditelorkan oleh Hizbut Tahrir.

Selain itu, dalam kitab-kitab klasik tersebut hampir semua tema besarnya menyebut kata al-imamah atau al-imam al-a’dzam. Penyebutan khilafah lebih jarang, hal ini berbeda dengan Hizbut Tahrir yang lebih sering menyebut khilafah sebagai jargón perjuangannya.

Bisa diambil contoh dalam kitab-kitab klasik madzhab asy-Syafi’i seperti kitab al-Umm juz 1 halaman 188 karya asy-Syafi’i, al-Ahkam as-Sulthaniyyah halaman 5 karya al-Mawardi, Raudhat ath-Thalibin wa ‘Umdat al-Muttaqin juz 10 halaman 42 karya an-Nawawi, Minhaj ath-Thalibin juz 1 halaman 292 karya an-Nawawi, Asna al-Mathalib juz 19 halaman 352 karya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab juz 2 halaman 187 karya Zakariya al-Anshari, Minhaj ath-Thullab juz 1 halaman 157 karya Zakariya al-Anshari, Tuhfat al-Muhtaj juz 9 halaman 74 karya Ibn Hajar a-Haitami, Mughni al-Muhtaj juz 5 halaman 409 karya Ahmad al-Khathib asy-Syarbini, Nihayat al-Muhtaj juz 7 halaman 409 karya ar-Ramli.

Terakhir dan yang terpenting, untuk menjawab argumen yang kedua sekaligus memperkuat bantahan untuk argumen yang pertama. Kalau para kader NU yang hidup sekarang ini ketika memahami teks-teks kitab kuning tentang imamah atau imam a’dzam tidak melewati model pemahaman sekaligus “bertawassul” lewat Mbah Wahab (KH. Wahab Hasbullah), maka akan mudah tertarik untuk ikut memperjuangkan khilafah ala HTI.

Perlu diketahui, Mbah Wahab dalam pidatonya di parlemen pada tanggal 29 Maret 1954 yang dimuat dalam majalah Gema Muslimin (copy arsip ada di penulis) dengan judul, “Walijjul Amri Bissjaukah” mengatakan:

“Saudara2, dalam hukum Islam jang pedomannja ialah Qur’an dan Hadits, maka di dalam kitab2 agama Islam Ahlussunnaah Waldjama’ah jang berlaku 12 abad di dunia Islam, di situ ada tertjantum empat hal tentang Imam A’dhom dalam Islam, jaitu bahwa Imam A’dhom di seluruh dunia Islam itu hanja satu. Seluruh dunia Islam jaitu Indonesia, Pakistan, Mesir, Arabia, Irak, mupakat mengangkat satu Imam. Itulah baru nama Imam jang sah, jaitu bukan Imam jang darurat. Sedang orang jang dipilih atau diangkat itu harus orang jang memiliki atau mempunyai pengetahuan Islam jang semartabat mudjtahid mutlak. Orang jang demikian ini sudah tidak ada dari semendjak 700 tahun sampai sekarang…. Kemudian dalam keterangan dalam bab jang kedua, bilamana ummat dalam dunia Islam tidak mampu membentuk Imam A’dhom jang sedemikian kwaliteitnja, maka wadjib atas ummat Islam di-masing2 negara mengangkat Imam jang darurat. Segala Imam jang diangkat dalam keadaan darurat adalah Imam daruri……..Baik Imam A’dhom maupun daruri, seperti bung Karno misalnja, bisa kita anggap sah sebagai pemegang kekuasaan negara, ialah Walijjul Amri.”

Pidato Mbah Wahab di atas setidaknya dapat ditarik tiga pemahaman:

1. Bahwa mengangkat kepemimpinan tunggal dalam dunia Islam baik yang disebut dengan imamah maupun khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak menurut Mbah Wahab sudah tidak ada lagi semenjak 700 tahun sampai sekarang.

2. Dari pidato tersebut juga dapat ditarik kesimpulan bahwa presiden Indonesia berikut NKRI adalah sah secara hukum Islam.

3. Pidato ini sekaligus menafikan pendapat bahwa Mbah Wahab bercita-cita menegakkan kembali khilafah dengan membentuk komite khilafah, karena terbukti Mbah Wahab menjelaskan bahwa sudah 700 tahun tidak ada orang yang setingkat mujtahid untuk menduduki kursi sebagai Imam atau khalifah.

Lantas, apa ratio legis Mbah Wahab dengan mengajukan argumen bahwa khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak sudah tidak ada lagi sejak 700 tahun. Kalau kita membuka lembaran kitab kuning semisal al-Ahkam ash-Sulthaniyyah karya Imam al-Mawardi, di situ dijelaskan bahwa ahlul imamah (orang yang berkualifikasi menjadi imam) harus memenuhi syarat adil, berilmu yang mampu untuk berijtihad, selamatnya pancaindera dan fisik dari kekurangan, wawasan kepemimpinan yang luas, keberanian dan nasab Quraisy. Poin tentang berilmu yang mampu untuk berijtihad inilah nampaknya yang dijadikan pijakan Mbah Wahab.

Menarikanya lagi, dalam pidato tersebut, Mbah Wahab menjelaskan lebih lanjut bahwa karena syarat menjadi imam a’dzam (seperti dalam al-Mawardi) sudah tidak terpenuhi, maka Soekarno absah menjadi pemimpin RI dengan gelar “waliyyul amri adh-dharuri bi asy-ssyaukah”. Artinya syarat pemimpin yang ideal diturunkan menjadi syarat minimal realistis. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan lain bahwa Gus Dur yang mempunyai kekurangan fisik juga absah menjadi presiden, karena memang presiden tidak sama dengan imam a’dzam sehingga syarat ideal seperti dalam al-Mawardi tidak diperlukan.

Dari uraian singkat di atas, warga dan kader NU sudah tidak perlu lagi terlibat dengan ikut memperjuangkan ide khilafah. Justru yang penting adalah mengisi NKRI supaya bersih dari korupsi dan menjadi negara yang adil dan sejahtera.

Di luar itu, soal kepemimpinan akhir zaman yang mengglobal, kita serahkan saja kepada a waited savior yang dipercaya oleh semua agama dengan berbagai sebutannya: al-Mahdi (Islam), Christos/Christ (Kristen), Ha-Mashiah (Yahudi), Buddha Maytreya (Budha), Kalki Avatar (Hindu), atau Shousyant (Majusi/Zoroaster).

Terlebih hadits yang menjelaskan tentang Imam Mahdi ini mutawatir tidak seperti hadits tentang khilafah. (Lihat kitab Nadzm al-Mutanatsir min al-Hadits al-Mutawatir karya Syekh Muhammad bin Ja’far al-Kattani, dan asy-Syaukani yang berjudul at-Taudhih fi Tawaturi Maa Ja-a fi al-Mahd al-Muntadzar wa ad-Dajjal wa al-Masih).

Dengan cara demikian, rakyat Indonesia tidak akan terpecah pikiran dan energinya untuk membongkar NKRI, tapi justru membangunnya demi keadilan, kesejahteraan dan kedamaian untuk semua warga bangsa. Wallahu a’lam.

************************************

dikutip dari catatan Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 04 April 2013


sumber : Kumpulan Foto Ulama dan Habaib


Wed, 10 Apr 2013, 1:57 am


Dakwah Paling Sukses pada Era Wali Songo

Perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari dakwah yang dilakukan oleh wali songo yang sukses mengislamkan nusantara dengan cara-cara damai melalui akulturasi kebudayaan. Sampai sekarang, strategi dakwah ini digunakan oleh Nahdlatul Ulama dengan penghargaan terhadap tradisi lokal. Sebenarnya, bagaimana dakwah yang dilakukan oleh walisongo dan bagaimana dinamika yang mereka alami, berikut ini wawancara NU Online dengan Agus Sunyoto, pengarang buku 'Atlas Walisongo' dan 'Suluk Malang Sungsang Syeikh Siti Jenar' seusai diskusi kebudayaan di NU Online pertengahan Mei 2007 lalu.

Sejauh ini, kalangan nahdliyyin selalu menyebut wali songo telah sukses dalam upaya penyebaran Islam di Indonesia, bagaimana sih trategi dakwah yang dijalankan oleh wali songo?
Strategi dakwah dan Islamisasi memang paling berhasil pada era itu, yaitu terjadi imigrasi besar-besaran terjadi dari negeri Campa. Kita tahu beberapa tokoh dari sana diantaranya adalah Sunan Ampel dan Sunan Bonang, Sunan Drajat dan seterusnya, dan pengaruhnya sangat besar dalam kultur keislaman di Indonesia. Saya lihat keberhasilan itu karena salah satunya merebut pesantren-pesantren Syiwa Budha yang dinamakan Dukuh. Di dalam pedukuhan itu sudah ada ajaran syiwa budha yang sebetulnya mirip dengan Islam misalnya orang siswa di pedukuhan yang dinamakan wiku atau calon wiku itu dilarang makan babi, dilarang minum minuman keras, dilarang makan barang subhat hasil dari membungakan uang riba dan seterusnya, dilarang judi, mencuri, persis syariat Islam. Kemudian ini diambil alih, dijadikan lembaga pendidikan yang dinamakan pesantren. Karena itu, santri kan berasal dari bahasa Sansekerta dari kata-kata sastri, yaitu orang yang mempelajari sastra, sastra ini kitab suci, jadi santri adalah orang yang mempelajari kitab suci. Untuk membedakan dengan Hindu, dibuat nama lain yang bukan sastri tapi santri. Mereka juga mempelajari kitab suci. Ini yang membedakan dengan padepokan Hindu atau asrama-asrama.
Selain itu, secara mayoritas di Jawa waktu itu, karena walisongo di Jawa, mainstream agama yang dianut oleh masyarakat adalah kepercayaan Kapitayan, ini pra Hindu sebenarnya, kalau Hindu kan diikuti oleh kalangan elit istana saja. Kebanyakan masyarakat masih model kapitayan. Dari situlah Islam masuk melalui Kapitayan, masyarakat bawah. Jadi Misalnya, untuk mengambil tempat ibadahnya orang kapitayan, Islam membangun tempat ibadah yang sama dengan orang kapitayan. Kalau orang kapitayan membangun tempat ibadah yang namanya sanggar, orang Islam membangun tempat yang namanya langgar. Kemudian, ibadah menyembah tuhan tidak digunakan dengan istilah sholat, tetapi orang-orang kapitayan diambil sembahyang, menyembah Sang Yang. Kemudian untuk ibadah tidak makan-makan atau tidak minum dalam sehari, tidak disebut shoum, ini kan bahasa Arab, yang digunakan orang-orang kapitayan yang sudah umum saja, yaitu upawasa jadi puasa. Semua mengambil alih itu.
Terus cerita-cerita tentang kehidupan di akhirat yang baik, tidak usaha ngomong tentang jannatul firdaus, yang sudah digunakan orang saja, surga, surgaloka, kalau kita bicara penderitaan di akhirat, kita bicara local saja, narul jahannam, tidak ngerti orang, pakai saja yang sudah dikenal orang-orang nerakaloka. Disitu mulai terjadi proses pengambilalihan. Semua institusi-institusi diambil.

Ini termasuk tahlil yang merupakan bagian dari lokalisasi ajaran Islam?
Sebetulnya kalau tahlil bukan. Ini kan usaha dari ulama-ulama, dari Syeikh Siti Jenar yang menemukan satu hadist ketika Nabi Adam akan dicipta, dunia ini dihuni bangsa jin. Ketika Nabi Adam akan diturunkan ke dunia, semua bangsa jin diusir dari dunia mereka menuju laut dan pulau-pulau, itu ada hadistnya. Nah karena itu, ulama-ulama masa itu, termasuk yang mempelopori Syeikh Siti Jenar, memberikan amaliah-amaliah kepada para pengikutnya untuk membaca amalan-amalan yang menolak pengaruh jahat. Ini kan ada dasarnya di hadist-hadist. Inilah yang akhirnya menjadi tahlil itu. Sebetulnya dari itu, awalnya menolak pengaruh jahat jin. Tetapi kita tidak tahu kapan proses itu terjadi, tahu-tahu ini jadi kirim doa untuk orang mati. Ada proses yang terjadi di situ.
Kalau kenduri, ini kan tradisinya orang Syiah untuk mengirim doa kepada leluhur, ini kan dari bahasa Persia. Nah memang orang-orang dari Campa yang datang ke Indonesia itu mazhabnya Syiah. Karena itu sama antara orang Campa dengan Indonesia, kalau mati diperingati 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari. Islam Campa yang terpengaruh Syiah, kalau mati orang ditalkin, itu syiah, orang Sunni tidak ada. Kalau sholat taraweh 23 rakaat, ini sama, Syiah juga.

Wali sendiri ada sembilan, termasuk yang dianggap sangat lokal kan Sunan Kalijogo dan Syeikh Siti Jenar, apa yang membedakan dengan wali yang lain?
Sebetulnya sama, hanya cuma pendekatan yang dilakukan oleh Syeikh Siti Jenar dan Sunan Kalijogo adalah pendekatan sufi atau tasawwuf. Mereka lebih fleksibel dalam menghadapi kondisi kultural masyarakat. Masyarakat di pedalaman dan pesisir kan ada perbedaan, disitu. Dan ternyata Syeikh Siti Jenar dan Sunan Kalijogo masih menyisakan tarekat sementara wali yang lain tidak meninggalkan itu, tidak ada bekas jejaknya kecuali makam-makan. Ada tarekat Akmaliyah, Syatariyah, itu salah satu bekas jejaknya Syeikh Siti Jenar dan Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati.

Kontraversi tentang Syeikh Siti Jenar sendiri bagaimana?
Ini masalah politis sebetulnya. Jadi ada perbedaan pendapat tentang Syeikh Siti Jenar antara di Jawa dan Cirebon. Di Cirebon, orang memandang Syeikh Siti Jenar lebih obyektif karena ia berasal dari sana, sementara di Jawa tidak. Itulah fenomena antara Islam pedalaman dan Islam pesisir, itu saja.

Faktor politik apa yang membuat Syeikh Siti Jenar dianggap melenceng dari Islam?
Dia kan merombak sistem sosial yang ada waktu itu, dia memperkenalkan namanya masyarakat yang berasal dari kata musyarokah, padahal sebelumnya strukturnya kawulo atau budak, dia menyuruh pengikutnya untuk menyebut masyarakat, yang sederajat, punya hak untuk kerjasama, menyebut diri dengan kata-kata ingsun atau aku bukan kulo atau kawulo. Kalau orang Sunda jangan menyebut diri dengan kata-kata abdi,, kalau di Sumatra jangan menyebut diri dengan kata-kata saya atau sahaya, ini artinya juga budak. Kamu orang yang sederajat. Ini yang membuat marah kalangan elit politik di keraton karena yang boleh mengucapkan kata-kata ingsun itu hanya raja. Orang lain tidak boleh, yang disebut panjenengan insung, panjenengan berasal dari kata-kata jumeneng artinya engkau yang punya hak berdiri. Masyarakat tidak punya hak untuk berdiri, menekuk kaki kalau kawulo itu. Nah Syeikh Siti Jenar melawan sistem itu.

Pada waktu itu penguasa di keraton seperti Demak kan para wali, apa ini tidak berarti ingin mengokohkan sistem yang ada sebelumnya dengan sistem kawulo gusti.?
Sebetulnya begini, yang berkuasa waktu itu adalah Sultan Trenggono, ia dari segi ibu cucunya Sunan Ampel, berarti Sunan Bonang itu pakdenya, Sunan Drajat yang pakdenya, Sunan Giri itu juga masih saudara, jadi wali songo itu satu keluarga. Jaman Sunan Trenggono, sudut pandangnya sudah lain karena walinya sudah berubah, Sunan Ampel sudah meninggal, Sunan Giri sudah meninggal, Sunan Bonang juga sudah. Ini generasi berikutnya, dari situlah Sunan Trenggono ingin mengokohkan kekuasaannya dan ia merasa terganggu dengan ajaran Syeikh Siti Jenar yang sangat egaliter itu. Dan Syeikh Siti Jenar melihat ajaran nabi itu kan sangat egaliter. Itulah, ia tetap bersikukuh dengan itu. Kerena itu, kadang-kadang aneh juga, Syeikh Siti Jenar sangat mengakomodasi kebudayaan kultural, tetapi disatu sisi tidak juga seluruhnya bener, karena ketika para wali menyebut dirinya sunan, sebuah bahasa lokal yang artinya raja atau guru spiritual, Syeikh Siti Jenar tetap pakai gelar syeikh tidak Sunan Siti Jenar, tetap syeikh.

Gelar syeikh ini berarti aspek keagamaan?
Ya keagamaan, guru agama dan syeikh itu kan guru spiritual, disitu. Jadi memang punya otoritas keagamaan?
Kalau melihat perkembangan Islam sekarang bagaimana dikaitkan dengan penghargaan terhadap budaya lokal. Sekarang kan banyak ajaran-ajaran baru?
Sebetulnya gini, ada proses perubahan sosial yang tidak terakomodasi oleh mainstream besar tradisional, karena kalau kita lihat munculnya kelompok sempalan baru ini dari mana asalnya? Ya dari mainstream besar ini. Mereka tidak terakomodasi sehingga lari, bukan karena mereka tiba-tiba muncul, ini karena tidak terakomodasi. Satu contoh, dia putranya syuriah NU, tetapi ia aktif di organisasi lain karena merasa "aku ini mahasiswa, sekolah di Amerika, ngaji yo ora iso koyok itu" Lha gimana, ini kan tidak terwadahi di NU. Di NU kan ada tradisi, kalau ada orang pinter yang bisa menjadi ancaman, disingkirkan, he he he… akhirnya muncul kelompok sempalan yang tidak terakomodasi, saya kira itu saja, tetapi kalau bisa mengakomodasi, saya kira orang-orang itu balik lagi.
Kalau berkaitan dengan kelompok Islam dari Timur Tengah itu bagaimana dan mereka tampaknya ingin menerapkan seperti yang di Arab?
Biar saja, yang jelas mereka yang mayoritas disini tetap akulturasi budaya. Kita lihat malah sekarang sudah banyak yang melenceng. Agak irasional, ada yang kelompok modern, fundamentalis, ngajarkan yang namanya ru'yah, ini apa, ini kan permainan orang-orang tradisional dulu. Nanti ada jinnya gini-gini, balik lagi akhirnya. Saya pernah mengantarakan mereka ziarah kubur, ya nalurinya balik lagi.
Artinya Islam Indonesia tak akan bisa seperti di Arab?
Dha bisa, saya itu pernah bertemu dengan salah seorang TKI dari Jember waktu haji. Ia mengatakan sudah bekerja di Saudi sejak tahun 1973, saya tanya, "Sampean kan berarti sudah punya hak untuk jadi warga negara sini?' dijawabnya "O, dhak pak, saya setiap tahun mesti pulang, saya tidak mau jadi warga negara sini. Orang sini kalau mati kayak binatang, dimasukkan liang kemudian dibuldoser, gak ada itu ditahlili, saya gak mau seperti itu". Nah ini ka nada faktor kultural yang memberati dia. Kenikmatan duniawi yang ia peroleh di sana tidak bisa merubah mainstream dia, ya sudah itu, mau apa lagi!. (mkf)
Sumber : http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,9087-lang,id-c,halaqoh-t,Dakwah+Paling+Sukses+pada+Era+Wali+Songo-.phpx

Mon, 25 Mar 2013, 3:08 am


DIALOG ANTARA SYAIKH DR RAMADHAN AL-BUTHI DENGAN SYAIKH ALBANI

Dewasa ini perkembangan ilmu hadits di dunia akademis mencapai fase yang cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan banyaknya kajian-kajian ilmu hadits dari kalangan ulama dan para pakar yang hampir menyentuh terhadap seluruh cabang ilmu hadits seperti kritik matan, kritik sanad, takhrij al-hadits dan lain sebagainya. Kitab-kitab hadits klasik yang selama ini terkubur dalam bentuk manuskrip dan tersimpan rapi di rak-rak perpustakaan dunia kini sudah cukup banyak mewarnai dunia penerbitan.
Namun sayang sekali, dibalik perkembangan ilmu hadits ini, ada pula kelompok-kelompok tertentu yang berupaya menghancurkan ilmu hadits dari dalam. Di antara kelompok tersebut, adalah kalangan mereka yang meremehkan amalan dari Hadits Dloif dalam konteks fadhail al-a'mal, manaqib dan sejarah, yang dikomandani oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani, tokoh Wahhabi dari Yordania, dan murid-muridnya. Baik murid-murid yang bertemu langsung dengan al-Albani, maupun murid-murid yang hanya membaca buku-bukunya seperti kebanyakan Wahhabi di Indonesia. dengan kata lain mereka Bergaya Ilmiyah Menfitnah Ilmuwan.
Di kutip dan di ringkas dari Kitab al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid'ah Tuhaddid al-Syari'at al-Islamiyyah.
Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah Wal-Jama'ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Salafi Wahabi dari Yordania.
Syaikh al-Buthi bertanya: "Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur'an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?"
Al-Albani menjawab: "Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur'an dan Sunnah."
Syaikh al-Buthi bertanya: "Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?"
Al-Albani menjawab: "Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?"
Syaikh al-Buthi berkata: "Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah."
Al-Albani menjawab: "Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain".
Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: "Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah?"
Al-Albani menjawab: "Ya."
Syaikh al-Buthi bertanya: "Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam Madzhab dalam Islam ? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur'an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka."
Al-Albani menjawab: "Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi' (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur'an adalah muttabi'. Jadi muttabi' itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad."
Syaikh al-Buthi bertanya: "Apa kewajiban muqallid?"
al-Albani menjawab: "Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya."
Syaikh al-Buthi bertanya; "Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?" al-Albani menjawab: "Ya, ia berdosa dan haram hukumnya."
Syaikh al-Buthi bertanya: "Apa dalil yang mengharamkannya?"
Al-Albani menjawab: "Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya."
Syaikh al-Buthi bertanya: "Dalam membaca al-Qur'an, Anda mengikuti qira'ah-nya siapa di antara qira'ah yang tujuh?"
Al-Albani menjawab: "Qira'ah Hafsh."
Al-Buthi bertanya: "Apakah Anda hanya mengikuti qira'ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira'ah yang berbeda-beda?"
Al-Albani menjawab: "Tidak. Saya hanya mengikuti qira'ah Hafsh saja."
Syaikh al-Buthi bertanya: "Mengapa Anda hanya mengikuti qira'ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wa ta'ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira'ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur'an sesuai riwayat yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara mutawatir."
Al-Albani menjawab: "Saya tidak sempat mempelajari qira'ah-qira'ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur'an dengan selain qira'ah Hafsh."
Syaikh al-Buthi berkata: "Orang yang mempelajari fiqih madzhab al-Syafi'i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam al-Syafi'i.
Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira'ah, sehingga Anda membaca al-Qur'an dengan semua qira'ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?"
Al-Albani menjawab: "Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian."
Syaikh al-Buthi berkata: "Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?"
Al-Albani menjawab: "Tidak berdosa."
Syaikh al-Buthi berkata: "Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir." Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.
Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan Muhaddits Abad Milenium al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid'ah Tuhaddid al-Syari'at al-Islamiyyah.
Dialog tersebut menggambarkan, bahwa kaum Wahhabi melarang umat Islam mengikuti madzhab tertentu dalam bidang fiqih.
Tetapi ajakan tersebut, sebenarnya upaya licik mereka agar umat Islam mengikuti madzhab yang mereka buat sendiri.
Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka.
Wallohu 'Alam ….Smoga bermanfaat…
Sumber : http://pondokhabib.wordpress.com/2012/03/15/dialog-al-bani-vs-al-buthi/

Mon, 25 Mar 2013, 12:31 am